Thursday, 1 October 2015

Hukum Bertransaksi Dengan Orang Kafir


Apa Hukum Bermuamalah Dengan Orang Kafir ?


Pertama  
Boleh melakukan transaksi dengan mereka dalam perdagangan dan sewa-menyewa selama alat tukar, keuntungan, dan barangnya dibolehkan oleh syariat Islam. Jika alat tukarnya diharamkan (misalnya khamr dan daging babi) atau keuntungannya diharamkan (seperti bungan dan riba) atau barangnya diharamkan (seperti anggur yang akan dijadikan khamr) atau memiliki dan menyewakan barang untuk perbuatan haram, itu semua diharamkan oleh syariat Islam, begitu pula barang yang digunakan orang kafir dalam memerangi kaum muslimin.

Kedua
Wakaf mereka, baik untuk diri mereka sendiri atau orang lain, dibolehkan selama hal itu merupakan wakaf terhadap kaum muslimin yang dibolehkan. Misalnya, derma terhadap fakir miskin, perbaikan jalan, derma terhadap ibnu sabil, dan semacamnya. Jika ia memberi wakaf kepada anaknya dengan syarat anaknya harus kembali kafir, haram menandatangi wakaf tersebut. Jika mereka memberi wakaf untuk gereja mereka, juga haram ditandatangani secara hukum, karena hal itu mengandung makna menolong mereka dalam kekufuran.

Ketiga 
Seorang muslim laki-laki boleh menikahi wanita ahli kitab, baik Yahudi maupun Nasrani. Sebagian ulama berpendapat bahwa ketika menikahi wanita ahli kitab akan menimbulkan mudarat bagi si laki-laki muslim, khususnya fitnah terhadap agamanya dan semacamnya, maka pernikahan itu diharamkan.

Keempat 
Boleh memberi pinjaman dan atau meminjam dari mereka walaupun dengan cara menggadaikan barang. Sebab, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. meninggal dunia sedangkan baju perangnya digadaikan kepada seorang Yahudi.

Kelima 
Orang kafir boleh melakukan perdagangan di negeri kaum muslimin selama perdagangan itu pada hal-hal yang dibolehkan secara syar'i, dan mereka harus menyerahkan sepuluh persen keuntungannya sebagai pajak yang harus digunakan bagi kepentingan umum kaum muslimin.

Keenam 
Ahli kitab yang berada dalam perlindungan keamananan kaum muslimin harus membayar penuh.

Ketujuh 
Jika ahli kitab itu tidak sanggup membayar jizyah, maka ia dibebaskan, dan jika ia miskin, maka ia disantuni dari Baitul Mal kaum muslimin.

Kedelapan 
Haram membolehkan mereka membangun rumah ibadah mereka di negeri muslim, dan geraja yang terdapat di negeri kafir yang dimasuki kaum muslimin tidak boleh dihancurkan, tetapi bila bangunan itu sudah runtuh, maka tidak boleh memperbaharui bangunannya.

Kesembilan 
Hukum yang diberlakukan pada mereka harus dihapus, jika dalam agama mereka hal itu merupakan kebolehan. Tetapi, haram menyampaikan itu secara terang-terangan kepada mereka.

Kesepuluh 
Jika perbuatan itu haram dalam agama mereka, lalu mereka melakukannya, mereka harus dihukum.

Kesebelas
 Orang dzimmi (non-muslim yang berada di negeri muslim) dan mu'ahid (non-muslim yang mempunyai perjanjian damai dengan negeri muslim) tidak boleh diganggu selama mereka melaksanakan kewajiban mereka dan tetap mematuhi perjanjian.

Kedua belas
 Hukum qisas atas nyawa dan seterusnya juga diberlakukan terhadap mereka.

Ketiga belas
 Boleh melakukan perjanjian damai dengan mereka, baik karena permintaan kita maupun karena permintaan mereka selama hal itu mewujudkan maslahat umum bagi kaum muslimin dan pemimpin kaum muslimin sendiri cenderung ke arah itu, berdasarkan firman Allah Taala yang artinya, "Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya?." (Al-Anfal: 61). Tetapi, perjanjian damai itu harus bersifat sementara dan tidak mutlak.

Keempat belas
 Darah, harta, dan kehormatan kaum dzimmi dan mu'ahid adalah haram.

Kelima belas
 Jika mereka tergolong ahlul harbi (harus diperangi), tidak boleh memerangi mereka sebelum diberi peringatan.

Keenam belas
 Orang kafir yang tidak terlibat dalam memerangi kaum muslimin, baik dengan pendapat dan perencanaan maupun dengan dirinya secara langsung (seperti anak-anak, wanita, rahib dalam rumah ibadahnya, orang tua jompo, orang sakit, dan semacamnya) tidak boleh diganggu dan diperangi.

Ketujuh belas
 Orang yang berlari menghindari berperang dengan mereka tidak boleh dibekali dan apa yang ditinggalkannya dianggap harta rampasan perang.

Kedelapan belas
 Jika pemimpin kaum muslimin menyatakan sahnya kepemilikan mereka atas tanah, hak itu dianggap sah dan benar. Namun, mereka harus membayar pajak dan tanah. Jika tidak mau membayarnya, tanah itu harus diserahkan kepada kaum muslimin untuk dibangun. Hal ini jika negeri mereka dibebaskan kaum muslimin dengan perang, karena statusnya adalah harta rampasan perang.

Kesembilan belas
 Jika orang kafir itu termasuk ahlul harbi (wajib diperangi), mereka boleh dijadikan budak, baik laki-laki maupun wanita, selama belum ada perjanjian damai dengan mereka.


Sumber: Al-Madkhal li dirasat al-Aqidah al-Islamiyyah 'ala Madzhabi Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah, Dr. Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah al-Buraikan


Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
=======================================================

Perang Salib

Sejarah Perang Salib


Apakah perang salib (491--692 H/1097--1292 M) itu? 

Ada yang menjawab bahwa gerakan itu tidak lepas dari rangkaian pertentangan antara Barat dan Timur, seperti antara Persia dan Romawi, kemudian lenyap dan meletus lagi dengan dahsyat dalam bentuk pertentangan agama antara Islam (Timur) dan Kristen (Barat).

Ada juga yang memberikan jawaban bahwa gerakan itu tidak lepas dari rangkaian perpindahan penduduk Eropa setelah kejatuhan imperiun Barat pada abad ke-5. Sebagian lagi menyodorkan jawaban bahwa gerakan itu merupakan kebangkitan kembali agama di Eropa Barat yang dimulai sejak abad ke-10 dan mencapai puncaknya pada abad ke-11. Pada abad-abad sebelumnya "jemaah haji" Kristen ke Bait al-Maqdis dari Eropa Barat bisa dihitung dengan jari. Namun, pada abad ke-11 datang ratusan jemaah yang dipimpin oleh uskup dan bangsawan dalam bentuk demonstrasi keagamaan secara damai menuju tempat-tempat suci di Syam.

Perang Salib yang dikumandangkan mulai tahun 1095 merupakan wujud 'gerakan haji' secara masal ke Bait al-Maqdis yang sebelumnya dilakukan secara damai, kini dilakukan melalui peperangan dan permusuhan. Alasannya, karena di Eropa Barat tersebut tersebar berita-mungkin dilebih-lebihkan, mungkin pula semacam hasutan dengan menggunakan sentimen agama-bahwa jemaah haji itu sering mendapat gangguan dari kaum muslimin, terutama setelah dinasti Salajiqah menguasai Bait al-Maqdis pada tahun 1071, kemudian menguasai Antioch tahun 1085 dan mengusir orang-orang Bizantium dari sana. Inilah yang meyakinkan orang Barat akan perlunya menggunakan kekerasan dalam rangka pengamanan jemaah haji dari Eropa Barat ke Syam.

Dr. Said Abd Fatah 'Asyur, dalam bukunya yang diterjemahkan oleh Syed Ahmad Semait, Perang Salib, menyimpulkan sebagai berikut. "Perang salib adalah gerakan besar-besaran pada abad pertengahan, yang bersumber dari Kristen Eropa Barat, berbentuk serangan penjajahan atas negara-negara kaum muslimin, khususnya di Timur Dekat dengan maksud menguasainya. Gerakan ini bersumber dari kondisi pikiran, sosial, ekonomi, dan agama yang menguasai Eropa Barat pada abad ke-11. Tindakan itu diambil setelah ada permintaan bantuan dari orang-orang Kristen Timur dalam melawan kaum muslimin dengan memakai tirai agama untuk menyatakan keinginan dirinya agar terbukti dalam bentuk tindakan secar meluas."

Kondisi masarakat Eropa Barat menjadi penyebab terjadinya perang salib itu. Motifnya pun sangat kompleks. Baik agama, sosial, politik, maupun ekonomi semuanya berjalin-kelindan. Faktor agama memang diaktifkan untuk membangkitkan semangat yang menyeluruh dan kesediaan berkorban. Namun, agama bukanlah satu-satunya faktor pembangkit perang salib.


Faktor-Faktor Pendorong Perang Salib

Sebab-sebab terjadinya Perang Salib secara umum di antaranya adalah sebagai berikut. 

(1) Adanya desakan dinasti Salajiqah terhadap posisi dan kedudukan kekuasaan Bizantyium di Syam dan Asia Kecil. Bahkan, Bizantium merasa lebih terancam setelah Salajiqah memenangkan pertempuran yang sangat menentukan di Muzikert pada tahun 1071. Karena itu, tidak heran kalau Emperor meminta bantuan dari Eropa Barat, termasuk dari Paus yang kekuasaannya cukup besar.

(2) Faktor agama. Faktor ini cukup dominan dalam mengobarkan Perang Salib meskipun persoalannya sebenarnya cukup kompleks. Agama Kristen berkembang pesat di Eropa Barat terutama setelah Paus mengadakan pembaruan. Sementara itu, Kristen mendapat saingan agama-agama lain, terutama Islam yang berjaya mengambil alih kekuasaan Bizantium di Timur yang juga menganut agama Kristen seperti Siria, Asia Kecil, dan Spanyol. Spanyol adalah benteng Eropa bagian barat dan Konstantinofel adalah benteng Eropa sebelah timur. Kedua pintu gerbang ini telah digempur kaum muslimin sejak dinasti Bani Umayyah, dilanjutkan oleh dinasti 'Abbasiah, kemudian dinasti Saljuq. Oleh karena itu, tidak heran kalau Eropa merasa gentar menghadapi perkembangan kekuasaaan Islam yang dianggapnya sebagai pesaing.

Sementara itu, pada abad ke-11 kedudukan Paus mulai diangap penting. Ia menjadi pemimpin semua aliran Kristen, baik di Barat maupun di Timur. Ia berambisi untuk menyatukan semua gereja. Pada waktu itu gereja terpecah menjadi dua: gereja Barat dan gereja Timur, itu terjadi setelah Konferensi Rum pada tahun 869 M dan Konferensi Konstantinofel pada tahun 879 M. Mereka berbeda paham tentang roh Kudus.

Paus berusaha menundukan gereja ortodok Timur, tetapi pertentangan antara gereja Barat dengan kekaisaran Bizantium menghambat niat Paus ini. Datanglah peluang emas bagi Paus untuk melaksanakan niatnya itu ketika ada permintaan bantuan dari Bizantium untuk menghadapi tekanan Salajiqah. Peluang emas ini dimanfaatkan juga agar Paus muncul sebagai pemimpin tunggal untuk semua rakyat masehi dalam berjuang melawan kaum muslimin, dan sekaligus bercita-cita menyatukan gereja Timur dan gereja Barat di bawah pimpinan Paus Butros. Semuanya dilakukan dengan memakai kedok agama untuk memerangi kaum muslimin, menyelamatkan Bizantium, dan mengembalikan tanah-tanah suci di Palestina.

Pada tahun 1009 gereja Al-Qiyamah dihancurkan oleh Al-Hakim sehingga "jemaah haji" Kristen mengalami gangguan ketika melewati Asia Kecil. Sentimen agama ini terlalu dibesar-besarkan di Eropa Barat. Seorang paderi, Patriarch Ermite, menjelang perang Salib berkeliling Eropa. Dengan berpakaian compang-camping, kaki telanjang dan mengendarai keledai, ia berpidato sambil menceritakan penghinaan pemerintah Saljuq terhadap kesucian Nabi Isa. Dengan cara ini, ia berhasil mengumpulkan ribuan orang untuk menyerbu Bait al-Maqdis demi kesucian agama mereka. Karena semata-mata didorong oleh sentimen agama, tanpa organisasi dan perencanaan yang matang, tentara mereka yang sebagian rakyat biasa akhirmnya kandas di perjalanan. Begitulah sebagaimana diutarakan Dr. Shalaby dengan mengutif karya Wells, A Short History of the Midle East.

(3) Faktor ekonomi. Faktor ini juga turut berperan dalam mendorong terjadiny Perang Salib. Ketika Eropa Barat-terutama Prancis-melancarkan propaganda perang Salib, negaranya sedang sedang menghadapi krisis ekonomi. Karena itu, sejumlah besar golongan faqir dan kaum kriminal menyambut seruan ini, bukan karena panggilan agama, tetapi karena panggilan perut. Buktinya, mereka merampok serta merampas makanan dan harta benda sesama orang Kristen dalam perjalanan menuju Konstantinopel ketika menyerbu Bait al-Maqdis. Hal ini sebenarnya bertentangan dengan ajaran agama mereka.

Selain itu, saat itu timbul "tiga besar" (Venice, Genoa, dan Pisa) yang ditopang oleh pemerintahan Italia, yang memberikan bantuan terutama berupa armada laut. Pemerintah Italia bermaksud hendak menguasai dan menduduki pelabuhan-pelabuhan timur dan selatan Mediterania, seperti pelabuhan-pelabuhan di Syam, supaya perdagangan Timur dan Barat dapat mereka kuasai.
Kepentingan ekonomi ini nampak ketika tentara Salib mengarahkan serangannya ke Mesir.

(4) Faktor sosial-politik juga memainkan peranan yang dominan dalam konflik Perang Salib ini. Hal itu dapat dilihat dari gejala berikut.

Pertama, masyarakat Eropa pada abad pertengahan terbagi atas tiga kelompok: (1) kelompok agamawan yang terdiri dari orang-orang gereja dan orang-orang biasa; (2) kelompok ahli perang yang terdiri dari para bangsawan dan penunggang kuda (knights); dan (3) kelompok petani dan hamba sahaya. Dua kelompok pertama merupakan kelompok minoritas yang secara keseluruhan merupakan institusi yang berkuasa dipandang dari segi sosial-politik yang aristokratis, sedangkan kelompok ketiga merupakan mayoritas yang dikuasai oleh kelompok pertama dan kedua, yang harus bekerja keras terutama untuk memenuhi kebtuhan kedua kelompok tersebut. Karena itu, kelompok ketiga ini secara spontan menyambut baik propaganda perang Salib. Bagi mereka, kalaupun harus mati, lebih baik mati suci daripada mati kelaparan dan hina, mati sebagai hamba. Kalau bernasib baik, selamat sampai ke Bait al-Maqdis, mereka mempunyai harapan baru: hidup yang lebih baik daripada di negeri sendiri.

Kedua, sistem masyarakat feodal, selain mengakibatkan timbulnya golongan tertindas, juga menimbulkan konflik sosial yang merujuk kepada kepentingan status sosial dan ekonomi, misalnya sebagai berikut. (1) Sebagian bangsawan Eropa bercita-cita, dalam kesempatan perang Salib ini, mendapat tanah baru di Timur. Hal ini menarik mereka karena tanah-tanah di Timur subur, udaranya tidak dingin, dan harapan mereka bahwa tanah itu aman di banding dengan di Eropa yang sering terlibat peperangan satu sama lain. Dalam proses perang Salib nanti akan nampak bahwa dorongan ini merupakan faktor terlemah tentara Salib karena timbul persaingan bahkan konflik.

(2) Undang-undang masyarakat feodal mengenai warisan menyebabkan sebagian generasi muda menjadi miskin karena hak waris hanya dimiliki anak sulung. Dengan mengembara ke Timur, melalui perang Salib, anak-anak muda ini berharap akan memiliki tanah dan memperoleh kekayaan.

(3) Permusuhan yang tak kunjung padam antara pembesar-pembesar feodal telah melahirkan pahlawan yang kerjanya hanya berperang. Kepahlawanan dalam berperang adalah kesukaan mereka. Ketika propaganda perang Salib dilancarkan, mereka bangkit hendak menunjukan kepahlawanannya. Kepahlawanan mereka selama ini disalurkan melalui olahraga sehingga mereka kurang memperoleh kepuasan.

(4) Besarnya kekuasaan Paus pada abad pertengahan, yang nampak dari ketidakberdayaan raja untuk menolak permintaan Paus. Kalau raja menolak, ia dikucilkan oleh gereja yang mengakibatkan turunnya wibawa raja di mata rakyat. Hal ini terbukti ketika raja Frederik II terpaksa turut berperang dengan membawa tentara yang sedikit, dan membelok ke Syam ketika ia seharusnya memberikan bantuan ke Mesir (Dimyat). Ia tidak bersemangat untuk berperang. Ia menghubungi Sultan al-Malik al-Kamil untuk menerangkan posisinya bahwa ia tidak membawa misi suci (dorongan gereja). Karena itu, ia memintanya untuk menjaga rahasianya (menipu Paus) agar tidak diketahui orang Jerman.

Nanti akan kita lihat bahwa Frederik II menempuh perdamaian dengan Al-Kamil, suatu perdamaian yang oleh Paus dianggap tidak memuaskan.

Demikianlah uraian tentang beberapa sebab dan motif terjadinya Perang Salib yang oleh K. Hitti disebutkan sebagai "Complexity on causation and motivation".

Para ahli sejarah meyakini bahwa sentimen agama pertama kali dikobarkan oleh Paus Urban II melalui khotbahnya tanggal 26-11-1095, di Council of Clermont. Council ini dihadiri oleh orang-orang gereja dan raja-raja Eropa. Seruan Paus yang terkenal dan cukup efektif antara lain: "Enter upon the road to the holy spulcrhe, wrest it from the wicked race and subject it". (Nurhakim Zaki)


----------------------------------

Perang Salib (II)


Ada beberapa penafsiran tentang berapa kali Perang Salib itu terjadi. Batas antara Perang Salib yang satu dengan yang lainnya secara pasti tidak dapat ditentukan. Menurut K. Hitti tiga kali, menurut Shalaby tujuh kali, sedangkan menurut Sa'ad Abd Fatah 'Asyur delapan kali. Karena itu, untuk memastikan kebenarannya, perlu penelitian lebihn lanjut. Saya akan menguraikan apa yang ditulis Syalaby.

Perang salib I
Ide Perang Salib I bersumber dari pidato Paus Urban II pada tahun 1095 di Clermont, daerah tenggara Prancis. Ia menganjurkan perang suci melawan kaum muslimin di Timur dengan satu teriakan: "Inilah kehendak Tuhan" (Deus vult). Hal ini sebagai hasil pendekatan berkali-kali kepada Paus Urban II oleh Emperor Alexius Comnenus yang posisinya sedang terdesak di Asia kecil oleh dinasti Saljuq. Pada tahun 1097 sebanyak 150.000 orang, sebagian besar dari Jerman dan Normandia, dikerahkan dalam tiga angkatan di bawah pimpinan Raja Godfrey, Raja Bohemond, dan Raja Raymond. Mereka bertemu di Konstantinofel.

Tetapi, tampaknya tidak semua raja di Eropa menopang gerakan salib ini. Dalam pertemuan bersejarah di Clermont itu, ada juga yang tidak hadir untuk menyatakan keikutsertaannya. Dari semula Paus Urban II merasa perlu dukungan dari kekuatan sekular. Para uskup bersidang dan mengeluarkan keputusan yang menyatakan bahwa setiap yang turut serta dalam perang suci akan mendapatkan pengampunan dosa dan kekayaan para bangsawan selama berperang dalam pengamanan gereja. Sidang itu juga menghasilkan kesepakatan, sebagai simbol gerakan, bahwa pakaian setiap orang yang turut berperang akan diberi tanda salib merah pada bagian pundak dan punggung dan gerakan diarahkan menuju Konstantinofel. Keputusan lainya, siapa saja yang pulang tanpa menunaikan tugasnya akan menerima hukuman dari gereja.
Angkatan Perang Salib I ini terdiri dari tiga kelompok. Kelompok pertama dipimpin oleh Raja Godfrey of Bouillon dari Lorraine dan saudaranya, Baldwin. Kelompok kedua dipimpin oleh Bohemond dari Normandia. Dan, angkaan ketiga dipimpin oleh Raymond IV dari Provinve, yang didampingi utusan pribadi Paus, Uskup Adheman. Di samping itu, Raymond memperingatkan Paus akan pentingnya bantuan dari Genoa, yaitu bantuan angkatan lautnya. Akhirnya, Gemoa memberikan bantuan dua belas kapal perang untuk menopang Perang Salib ini. Karena itu, Genoa mendapat hak atas pelabuhan-pelabuhan Syiria.
Ketiga kelompok tentara Salib tersebut, setelah sampai di Konstantinofel, harus tunduk kepada pimpinan dan komando Kaisar Alexius Comenus. Pada mulanya ada perlawanan terutama dari Godfrey dan Raymond. Namun, akhirnya mereka terpaksa tunduk kepada kekuasaan Bizantium. Di samping itu, Kaisar Bizantium dapat memaksakan suatu perjanjian: "Setelah menaklukan daerah-daerah di Asia Kecil dan dan di Syam, para raja harus mengembalikan daerah-daerah bekas kekuasaan Bizantium yang di rebut oleh Saljuq".
Dari fakta-fakta tersebut nampak bahwa pihak Bizantium Timur, Alexius, cukup berpengalaman dalam memaksakan keinginannya mempertahankan daerah-daearah jajahannya. Dari pihak raja-raja juga sebenarnya hendak mendirikan pemerintahan masing-masing. Perlawanan terhadap kekaisaran Bizantium dibalas dengan pemboikotan bahan makanan, sehingga mereka tidak berdaya menghadapi Kaisar Alexius itu, seperti terjadi terhadap Godfrey. Peselisihan Emperor dengan Raymond tidak setajam dengan Godfrey karena dapat diredakan oleh utusan Paus, Adhemar. Namun, perselisihan ini berlanjut ampai raja-raja mengingkari janjinya. Ini merupakan kelemahan pihak tentara Salib, sehingga Paus menjadi kecewa.

Pada permulaan 1097 tentara Salib mulai menyeberangi Selat Bosforus bagaikan air bah. Mereka berkemah di Asia Kecil yang ketika itu dikuasai oleh Dinasti Saljuq, Qolej Arslan. Mula-mula mereka mengepung pelabuhan Naicaea selama sebulan sampai jatuh ke tangan tentara Salib pada tanggal 18 Juni 1097. Ini berarti Bizantium telah merebut kembali apa yang telah dikuasai dari Antioch selama enam tahun. Tentara Bizantium di bawah pimpinan Emperor mengadakan perundingan dengan penguasa kaum muslimin seputar penyerahan kota itu kepadanya, dengan jaminan muslim Turki akan diselamatkan. Hal ini mengejutkan tentara Salib karena merasa kalah cepat oleh kelihaian Emperor.
Tentara Salib terus maju. Pertempuran di Darylaeum (Eski-Shar) meluas ke tenggara Nicaea sampai akhir 1097. Tentara Salib meraih kemenangan karena Saljuq dalam keadaan lemah. Mereka berhsil memasuki selatan Anatolia dan Provinsi Torres. Di bawah pimpinan Baldwin, mereka mengepung Ruha, yang penduduk Armenianya beragama Kristen. Rajanya, Turus, telah melantik Baldwin untuk menggantikannya setelah ia mati, sehingga Baldwin dapat menaklukan Ruha pada tahun 1098.

Bohemond menaklukan Antioch, ibu kota lama Bizantium, pada tanggal 3 Juni 1098 setelah susah payah mengepungnya selama sembilan bulan. Antioch termasuk benteng yang sangat kuat karena secara geografis sangat strategis--setelah konstantinofel-- dengan gunung-gunungnya yang mengelilingi sebelah utara dan timur, dan sungai yang membatasinya. Jatuhnya Antioch dari Yagi Sian (Saljuq) disebabkan oleh berpecah-belah dan lambatnya bantuan dari Salajiqoh Persia (Karbugha), serta terjadinya pengkhianatan di dalam Antioch sendiri oleh bangsa Armenia yang tentu memihak Kristen. Bantuan logistik dan perlengkapan dari Inggris dan armada laut Genoa yang tiba di pelabuhan Suwaida semakin memperkuat tentara Salib.

Bahemond telah menunjukan keberaniannya yang luar biasa. Ketika tentara Salib mengalami krisis dalam pengepungan Antioch ini, ia pura-pura bersedia pulang ke Italia. Dengan sendirinya tentara meminta-minta agar tidak ditinggalkan oleh pemimpinnya, terutama pada saat yang kritis, ketika mendapat serangan tentara gencar dari tentara Saljuq. Ia menuduh panglima Bizantium, Titikios, telah mengkhianati tentara Salib karena mengadakan hubungan rahasia dengan penguasa Saljuq-Turki untuk menghancurkan tentara Salib. Hal ini menyebabkan kemarahan tentara Salib meluap-luap. Akhirnya, Tatikios dengan tentaranya lari melalui pelabuhan Suwaida ke Pulau Cyprus karena takut dibunuh tentara Salib. Nampaknya kali ini Bahemond berhasil menempatkan dirinya sebagai satu-satunya panglima-- setelah mendapat pengalaman menghadapi kaki tangan Emperor di Nicaea--sehingga ada alasan untuk tidak menyerahkan Antioch kepada Emperor Bizantium. Di sini nampak persaingan kekuasaan antara Bizantium dan raja Eropa.
Setelah penaklukan Antioch, Bohemond dapat menguasai daerah-daerah sekitarnya. Raymond menguasai sebelah barat daya Antioch dan tidak mau menyerahkannya kepada Bohemond, karena sebenarnya ia pun berambisi menguasai seluruh Antioch. Krisis ini baru bisa diselesaikan setelah Raymond diserahi pimpinan untuk penyerangan ke Yerusalem, karena ia mempunyai peluang untuk menguasai daerah yang lebih luas di tanah suci itu. Akhirnya, Antioch berada di bawah kekuasaan Kristen selama kurang lebih seperempat abad.
Dalam perjalanan ke Baitul Maqdis, Raymond mengadakan hubungan kerja sama dengan amir-amir Arab, antara lain dengan Muwaranah yang memberikan bantuan kepada tentera Salib. Pemerintah Tripoli dan Beirut juga memberikan bantuan kepada tentara Salib, mungkin karena Solidaritas agamanya lebih diutamakan daripada tanah airnya, atau karena tidak tunduk kepada tentara Turki. Dalam tempo satu bulan, Yerusalem sudah dapat direbut pada tanggal 15 Juli 1099. Kekalahan kaum muslimin Dinasti Fatimiyah yang menguasai Bait al-Maqdis sudah dapat dipastikan, karena kota-kota penting yang merupakan pintu gerbang satu-persatu telah ditaklukan. Jumlah tentara Salib jauh lebih banyak daripada tentara Fatimiyah, yaitu 40.000 orang (20.000 orang merupakan tentara terlatih).

Penaklukan Bait al-Maqdis oleh tentara Salib diwarnai dengan pembantaian yang tak pandang bulu (indiscriminate massacre). Kaum muslimin--meliputi semua umur dan jenis yang tak berdaya--dibantainya. K. Hitti menuliskan, "Heaps of heads and hand feet were to be seen throughout the street and squares of the city." Para ahli sejarah mencatat jumlah korban pembantaian itu sekitar 60.000--100.000 orang lebih. Peristiwa yang kejam ini (jika dibandingkan dengan penaklukan Shalahuddin al-Ayyubi dalam merebut kembali Bait al-Maqdis) tentu menimbulkan pertanyaan, "Benarkah motivasi agama (Kristen) menjiwai perang ini?"

Akhirnya misi tentara Salib tercapai, yaitu merebut Bait al-Maqdis dan berhasil mendirikan pemerintahan, masing-masing Baldwin memegang tampuk kekuasaan di Ruha (1098), Bohemond menguasai pemerintahan di Antioch, dan Godfrey menjadi penguasa di Yerusalem, karena Raymond tidak terpilih menjadi penguasa di sana. Godfrey meninggal dunia dan digantikan saudaranya, Baldwin I, tanpa ada yang menyaingi karena Bohemond ditawan Raja Al-Ghazi Kamusytakin Turki.

Meskipun Yerusalem telah dikuasai, peperangan di Syam terus berlangsung. Raja Yerusalem menyerahkan kepemimpinan kepada Raymond (1101) untuk menaklukan Tripoli di Syam. Kaum muslimin di Tripoli dapat mempertahankan pengepungan Salib selama delapan tahun. Pada tahun 1109, Tripoli jatuh ke tangan tentara Salib, tetapi Raymond tidak sempai menyaksikan kejatuhan kota itu karena meninggal dunia (1105) ketika pengepungan mencapai puncaknya. Ia digantikan oleh Wiliam Yordan, yang meninggal dunia pada tahun 1108. Wiliam kemudian diganti oleh Bertrand. Pada zaman Bertrand, Tripoli dapat ditaklukan. Kota-kota penting lain yang ditaklukan ialah Akka (ditaklukan pada tahun 1104) dan Sur (ditaklukan pada tahun 1124). 

--------------------------

Perang Salib (III)

Selama Perang Salib sudah nampak kelemahan di pihak tentara Salib, yaitu perselisihan dan persaingan antara raja-raja dengan Emperor Alexius dan persaingan antara raja-raja sendiri, apalagi ketika musuh bersama mereka sudah tidak berdaya lagi. Kelemahan itu bertambah dengan kembalinya sebagian besar tentara Salib ke Eropa. 

Di pihak lain, kaum muslimin yang menyadari kelemahannya mulai mengonsolidasikan diri. Dari selatan, tentara Salib mulai didesak oleh tentara Mesir sehingga Ar-Ramlah dapat ditaklukan pada tahun 1102 melalui pertemperan yang hebat. Dari utara mereka mendapat serangan dari kerajaan-kerajaan Atabek yang didirikan di atas reruntuhan dinasti Salajiqoh, anatar lain Atabek al-Mausal yang dipimpin oleh Imadiddim Zangi pada tahun 1127. Prof K. Ali pernah menggambarkan pribadi Imaduddin Zangi, anak Sultan Malek Syah ini sebagai berikut, "Ia lebih mencintai sadel kuda daripada tempat tidur sutera, lebih senang menjadi pemimpin pertempuran daripada menikmati lagu dan musik yang indah, dan lebih memilih berbicara dengan senjata daripada bersenda gurau dengan wanita cantik." Ia mampu menahan perluasan kekuatan Salib, bahkan mampu menyerang wilayah-wilayah yang dikuasai Kristen satu per satu, sehingga Ruha (Edessa) dapat ditaklukan lagi pada tahun 1144. Edessa dianggap oleh orang Kristen sebagai kota suci. Karena itu, di sana didirikan keuskupan. Ketika Imaduddin dan tentaranya memasuki daerah itu, mereka tidak menghukum semua orang Kristen, kecuali yang ikut berperang dan membantu tentara Salib Jerman. Imaduddin dibunuh oleh tentaranya sendiri ketika beroperasi di Kalat-Jabir. Putranya, Nuruddin Zangi, kemudian menggantikannya dan menjadikan Aleppo sebagai pusat pemerintahannya. Pada masa Nurudin inilah terjadi Perang Salib II.

Paus Eugenius III memilih seorang dai, Padri Bernand, untuk berbicara atas nama Paus. Ia pandai membakar semangat orang-oarang Eropa untuk membantu orang-orang Salib di Timur. Padri ini berhasil mempengaruhi Louis VII, raja Prancis, dan Conrand III, raja Jerman, untuk memimpin serangan baru menyelamatkan wilayah Kristen di Syam itu. Baron-baron dari kedua negara itu turut serta mengikuti jejak raja-raja mereka.
Tentara Jerman lebih dahulu bergerak menyeberangi Sungai Danube menuju Konstantinopel. Di sana mereka disambut Emperor Manual yamng memiliki semangat tanpa perhitungan matang dan tidak sepandai Alexius. Sesampainya tentara Jerman ke Asia Kecil, dengan mudah tentara Islam menggempurnya sampai sebagian besar tentara Jerman ini terbunuh. Demikian pula nasib tentara Prancis yang sampai ke Konstantinopel, mereka mengalami nasib yang sama seperti tentara Jerman--selain banyak yang mati karena wabah penyakit. Sisa-sisa tentara mereka berangkat juga menuju Syiria hendak mengepung Damaskus. Akan tetapi, Nuruddin Zangi dapat menghalau mereka. Kedua anak raja ini pulang ke Eropa, Perang Salib II selesai.
Penyebab kegagalan tentara Salib adalah tidak adanya kerja sama yang baik antara meraka. Satu dengan yang lain tidak saling mempercayai karena masing-masing merasa khawatir kekuasaannya akan dicaplok, ditambah lagi wabah penyakit terutama yang menimpa tentara Prancis, di samping serangan yang tidak dilakukan secara serempak seaperti pada Perang Salib II.

Sejak Dinasti Zangi memegang kembali pimpinan, perimbangan kekuatan berubah lagi. Kemenangan Nuruddin mempertinggi semangat untuk menaklukan lagi wilayah-wilayah yang dikuasai Kristen. Pada tahun 1149, ia menaklukan Antioch, pada tahun 1151 menaklukan Ruha (Edessa), dan tahun 1164 menawan Bohemond III dan Raymond III yang memerintah Tripoli. Kemudian, Nuruddin mengambil alih Damaskus dari Muiddin Umar yang dianggapnya lemah dalam menghadapi gerakan Salib, bahkan secara rahasia ia berusaha mengkhianati Nuruddin. Yang penting pula Nuruddin mengirimkan seorang panglima yang gagah berani, Asaduddin Syirkuh, ke Mesir dalam rangka memperkuat sayap kiri menghadapi tentara Salib. Syirkuh diterima baik oleh rakyat Mesir dan Khalifah Fatimiyyah. Ia diangkat sebagai perdana menteri, dan praktis memegang kekuasaan pada tahun 1169. Namun, tidak lama kemudian ia wafat. Kedudukannya lalu digantikan oleh Shalahuddin al-Ayyubi yang melanjutkan jabatan perdana menteri pada masa Khalifah Al-Adhid. Di samping memperkuat sayap kiri barisan kaum muslimin, Shalahuddin juga memberi peluang timbulnya dinasti Al-Ayyubi. Peristiwa demi peristiwa terjadi pada masa kekuasaannya, sehingga Salahuddin akhirnya menutup riwayat Khilafah Fatimiyah Syi'iyah. Ia berhasil mengembalikan Mesir kepada Ahli Sunnah, dan tunduk kepada Khalifah Abbasiyyah di Baghdad. Selanjutnya ketika Nuruddin Zangi meninggal dan digantikan anaknya, Ismail, terbuka kesempatan bagi Shalahudin untuk mengambil alih kekuasaan. Ia berusaha keras mengadakan konsolidasi, menggabungkan daerah-daearah yang belum tunduk kepada kekuasaan Nuruddin. Penting juga untuk dicatat, dengan berkuasanya Salahuddin di Mesir, pusat kekuasaan Islam beralih ke Selatan, sehingga Mesir menjadi markas utama dalam melawan gerakan Salib. Hal ini disebabkan oleh terjadinya perpecahan di kalangan pelanjut Nuruddin di Syam.

Di antara strategi dan taktik Salahuddin ialah mendahulukan konsolidasi negara-negara Arab-Islam, termasuk Al-Nubah, Yaman, Hijaz, dan Syam. Selain sebagai panglima militer, ia juga seorang politikus di zamannya. Ia mempergunakkan taktik mengulur waktu melalui perjanjian damai dengan pihak Salib. Sementara itu, ia melakukan konsolidasi kekuatan militer untuk mencapai sasaran utama.

Setelah itu, baru Salahuddin melancarkan serangan-serangan ke kubu kekuatan Latin. Pertama-tama, untuk mengamankan Mesir dari serangan sebelah Barat, ia menaklukkan Afrika yang diduduki tentara Normandia. Karena sistem yang tidak begitu kuat, dalam waktu singkat ia bisa menduduki Tripoli (Libya) dan Tunis, bahkan kota Kobis pada tahun 568 H. Lalu, ia mengarahkan serangan demi serangan ke Palestina. Salahuddin mencoba menyerang Balabak dan Damaskus, kemudian Palestina (1117). Serangan-serangan ini gagal, bahkan Salahuddin sendiri hampir tertawan. Ia kembali ke Mesir untuk mempersiapkan diri lebih baik.
Ada dua peristiwa pertempuran penting yang menyebabkan nama Salahuddin semakin harum, dan dengan sendirinya membuka pertahanan untuk menerobos dan merebut kembali Bait al-Maqdis dari kekuasaan Salib. Pertama, penaklukan benteng Ya'kub yang kokoh di Banyas--benteng itu merupakan sarana penyokong bantuan. Sementara itu, Farukh Syah, keponakan Salahuddin, dapat menaklukkan Damaskus dari Baldwin IV. Sementara pengepungan benteng Ya'kub makin diperketat, Salahuddin juga mengirim tentera untuk menaklukkan Beirut dan Saida. Pihak Latin terpaksa meminta perdamaian. Dalam hal ini siasat Salahuddin adalah menerima sebagian dan menolak sebagian yang pernah mengkhianati perjanjian, tujuannya untuk memecah kekuatan mereka. Selain itu, ia juga membenahi kekuasaannya di Mausol dan Aleppo setelah wafatnya Al-Malik al-Salih, Sultan Ismail Ibn Nuruddin. Kedua, pertempuran Hittin (1187) setelah Salahuddin menaklukkan wilayah-wilayah lainnya, dan setelah Regional of Chatillon mengkhianati perjanjian perdamaian, bahkan tenteranya melakukan serangan-serangan yang membabi-buta terhadap jamaah haji kaum muslimin. Reginald menawan kafilah haji, termasuk saudara perempuan Salahuddin. Hittin adalah suatu lapangan yang dikelilingi bukit-bukit dan berdekatan dengan laut Tabariah. Tentara Latin berjumlah 20.000 orang dipimpin oleh raja Bait al-Maqdis, Guy of Lusignon, dan Reginald of Chatillon, penguasa benteng Karak. Namun, kaum Muslimin berjaya dapat memenangkan pertempuran yang menentukan ini. Kekalahan salib ini berdampak besar terhadap kekuatan tentara Islam. Sebaliknya, tentara Salib semakin lemah, karena yang ditawan bukan saja prajurit biasa, melainkan juga panglima-panglimanya, Guy dan Reginald. Oleh karena itu, penaklukkan kota-kota lainnya, seperti benteng Tabariah, Akka, Al-Naisiriah, Qisariah, Haifa, Saida, dan Beirut dilakukan dengan mudah, dan merupakan kulminasi atau puncak reputasi Salahuddin yang ditakuti oleh pihak Salib.

Selanjutnya Salahuddin mengarahkan tentaranya menuju Jerusalem. Pusat-pusat kekuatan yang akan memberikan bala bantuan dapat diamankan. Pada mulanya Salahuddin ingin memasuki kota suci itu secara damai karena mempertimbangkan kedudukan daerah ini yang bukan saja kota suci bagi Kristen, tetapi juga kota suci agama samawi lain, termasuk Islam. Akan tetapi, pihak penguasa Salib tidak mau begitu saja menyerahkannya, karena mereka merasa bentengnya kuat, dan orang-orangnya banyak karena merupakan pelarian terakhir. Salahuddin terpaksa harus menggempurnya. Ia mengambil posisi di Bukit Zaitun sebagai markas tentaranya, dan memerintahkan agar menempatkan majanik-majanik di atas bukit itu. Tentara Salahuddin menjadikan batu-batu bukit sebagai peluru. Tentara-tentara Salib berlindung di benteng-benteng besar. Pasukan penerobos berusaha memasuki benteng dengan keberanian yag luar biasa. Tidak ada jalan lain bagi tentara Salib, kecuali menyerah dan mengadakan perundingan mengenai pemberangkatan tentara Salib daru Jerusalem. Dalam tempo 40 hari, mereka harus keluar dari Jerusalem dengan membayar semacam kerugian perang: laki-laki membayar 10 dinar, perempuan 5 dinar, dan anak kecil 2 dinar setiap orangnya. Dari fakta ini tampak kebesaran jiwa Salahuddin, yang mampu menguasai diri dan anak buahnya untuk tidak mengadakan tindakan pembalasan di luar perikemanusiaan seperti yang pernah dilakukan tentara Salib ketika merebut Jerusalem tahun 1099.

Sekumpulan istri para bangsawan dengan anak-anaknya datang berbondong-bondong kepada Salahuddin agar suami atau bapak mereka dibebaskan sehingga mereka bisa pulang ke Eropa dengan tenang. Mendengar ratapan ini Salahuddin segera melepaskan suami atau orangtua mereka dengan rasa perikemanusiaan yang tinggi. Sikap Salahuddin ini menambah harum namanya, baik di mata lawan maupun kawan. Beberapa sejarawan Barat yang pernah menulis ketinggian pribadinya, antara lain Stanley Lane Poole.

Akhirnya Jerusalem kembali ke pangkuan kaum muslimin. Suara azan mulai berkumandang di Al-Masjid al-Aqsa, sementara lonceng gereja masih sepi, turut berduka-cita. Anak buah Salahuddin menurunkan salib Emas dari Al-Qubbah al-Sakhra, tetapi tidak memasang menara azan di Kanisah al-Qiyamah.  

--------------------------

Perang Salib (IV)

Tujuan utama Perang Salib adalah merebut dan mempertahankan Jerusalem. Kini kota suci ini telah kembali ke pangkuan kaum muslimin. Selanjutnya, meskipun ada persamaan antara Perang Salib I dengan Perang Salib III, ada juga perbedaan-perbedaannya, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, pada Perang Salib I, Paus yang menjadi penggerak utama sekaligus dijadikan lambang dalam perang itu, sedangkan pada perang Salib III, penggerak utamanya adalah kaum politisi, yaitu raja-raja Eropa Barat. Kedua, pada Perang Salib I, faktor agama menjadi pendorong yang penting, sedangkan pada Perang Salib III, faktor agama bukan menjadi penyebab. Pada Perang Salib III banyak orang Eropa yang turut berperang agar terbebas dari kewajiban membayar pajak. Pada Perang Salib II, Louis VII bahkan membebankan pajak 10% kepada pemilik kendaraan yang tidak turut berperang. Demikian pula Philip Augustus dan Richard the Lion's Heart, ia membebankan pajak--yang disebut "Dana Cukai Shalahuddin"--kepada ahli agama dan masarakat umum. Paus pun giat mengumpulkan "Dana Perang Salib" sambil mengeluarkan fatwa bahwa orang yang tidak mampu berperang harus memberikan dana, dan akan diampuni segala dosanya sebagaimana orang yang turut berperang. Kepada setiap penderma diberikan "Sertifikat Pengampunan". Akhirnya, gereja menjadi sumber dana yang penting. Ketiga, pada Perang Salib I, jumlah tentara salib cukup besar. Mereka begitu serempak dan bersatu menghadapi tentara muslim Saljuq yang lemah dan berpecah belah, sedangkan keadaan pada Perang Salib III sebaliknya.

Orang-orang yang memimpin Perang Salib III adalah raja-raja Eropa terkenal:
 (1) Raja Jerman Frederik Barbarosa, 
 (2) Raja Inggris Richard the Lion's Heart 
(3) Raja Prancis Philip Agustus. Yang paling menonjol dan enerjik adalah Frederik II yang memilih jalan darat menuju medan perang, menyeberangi sungai dekat Armenia, Ruha. Tetapi nasibnya malang, ia tenggelam ketika menyeberang. Karena tidak ada pelanjut kepemimpinan yang bisa diandalkan, sebagian besar tentaranya kembali ke Jerman.

Tentara Inggris dan Prancis yang bergerak menuju jalan laut bertemu di Saqliah. Richard menuju Cyprus kemudian ke Palestina, sedangkan Philip langsung ke Palestina, dan mengepung Akka dengan bantuan sisa-sisa tentara Frederik. Dalam pengepungan ini turut pula orang-orang Latindi Syam di bawah pimpinan Guys yang pernah mengadakan perjanjian damai dengan Shalahuddin. Berkat dukungan tentara Richard dan angkatan lautnya, Akka dapat direbut. Tentara Salib melakukan pembunuhan besar-besaran meskipun setelah itu tidak ada lagi serangan militer. Perang salib ini diakhiri dengan perjanjian Ramalah (1192) yang isinya menyisakan sedikit tanah untuk orang Kristen di pantai yang berdekatan dengan Akka--memanjang dari Sur sampai Haifa--membolehkan jemaah haji Kristen berziarah ke Yerusalem tanpa membawa senjata, dan Shalahuddin menguasai wilayah yang ditaklukannya termasuk Ludd, Ar-Ramlah, dan Asqolan.

Tidak lama kemudian, Maret 1193, Shalahuddin meninggal dunia setelah mengalami sakit di Damaskus dengan meninggalkan wilayah kekuasaan yang cukup luas. Qodi Ibnu Syaddad menggambarkan keadaan duka cita kaum muslimin, "Islam dan kaum Muslimin tidak mendapatkan musibah yang setara dengan wafatnya Shalahuddin semenjak mereka kehilangan Khulafa ar-Rasyidin?."

Antara Perang Salib III dengan Perang Salib IV ada kondisi yang khas, yakni (1) gereja berusaha mengembalikan kepemimpinan, tetapi Henry VI, seorang politikus yang ulung, dapat mengganjal usaha ini; (2) perselisihan baru terjadi antara kalangan militer Latin di Syam; (3) di pihak Islam pun terdapat kelemahan, karena Shalahuddin, sebelum wafatnya, telah membagi-bagikan wilayah kekuasaan kepada para pelanjutnya. Damaskus dan bagian selatan Syria diserahkan kepada Al-Malik al-Afdal (1193-6), Mesir kepada Al-Malik al-Sahir (1993--1215); sedangkan saudara Shalahuddin, Al-Malik al-'Adil, memperoleh Karak, Jordan, Jazirah, dan Diyar Bakr--nampaknya wilayah terakhir ini kurang penting sehingga kurang menyenangkan Al-'Adil. Keluarga Al-Ayubi lainnya juga mendapat warisan daerah kekuasaan sampai Jazirah Arabia dan Yaman. Akhirnya, terjadi perselisihan antara putra-putranya dan Al-'Adil, diakhiri dengan kemenangan Al-'Adil terhadap keponakan-keponakannya itu (1199--1218). Demikianlah peta pembagian kekuasaan sampai datang serangan Mongol (1260).


Perang Salib IV (1202--1204)

Pada masa Paus Innocent III, gereja tetap mengobarkan kembali perang Salib. Dalam hal semangat dan kepemimpinan, perang ini bercorak Prancis seperti Perang Salib I. Target perang ini diarahkan ke Mesir, dengan pertimbangan: (1) kekuatan Islam sudah beralih ke Mesir, karena itu Mesir harus dikuasai dulu; (2) penaklukan Mesir akan membawa keuntungan perdagangan untuk para pedagang Italia--jika langsung menguasai Jerusalem, orang Mesir akan melakukan tindakan pembalasan terhadap para pedagang di Delta Nil, Dimyat, dan Alexanderia.

Ketika tentara Salib di Venice (1202) bersiap hendak menuju Mesir, tiba-tiba semua pasukan diperintahkan untuk menyerang Konstantinopel pada bulan Juli 1203, dan merebutnya pada bulan April 1204. Setelah itu, Baldwin VII diangkat sebagai Emperor Latin I di Konstantinopel. Kekuatan ini berkuasa selama 60 tahun.


Perang Salib V (1218--1221)

Perang Salib ini merupakan lanjutan Perang Salib I dan IV, dengan sasaran utamanya Mesir. Saat itu Mesir berada di bawah Pemerintahan Al-Malik al-'Adil, yang meninggal dunia (1218) setelah tentara Salib menguasai menara Al-Silsilah. Al-Malik kemudian digantikan oleh putranya Al-Malik al-Kamil (1218--1238).

Al-Malik al-kamil menghadapi gangguan dari dalam, yaitu konspirasi yang dipimpin oleh seorang panglima yang berasal dari Kurdi, Ibn Masytub, yang hendak menyisihkannya. Ia lalu melarikan diri ke Yaman. Namun Karena bantuan adiknya, Al-Malik Mu'azzam dari syam, ia bisa kembali menduduki tahta kesultanan Mesir. Tantangan dari luar--selain dari tentara Salib--adalah tentara Mongol yang mulai menguasai dunia Islam bagian Timur, Khawarizami, negeri-negeri Transoxiana, dan sebagian negeri Persia pada tahun 1220. Serangan Mongol ke Baghdad pun dimulai.

Kedudukan tentara Salib sebenarnya baik karena banyaknya rombongan besar menggabungkan diri atas seruan Paus Innocent III yang dilanjutkan oleh Paus Honorius III. Raja Juhanna de Brienne dan Wakil Paus, Plagius, memimpin pasukan ini. Dimyat bisa segera mereka kuasai pada tahun 1218. Namun, serangan belum dilanjutkan menuju Kairo karena menunggu bantuan Frederik II dalam perajalanan untuk menopang serangan selanjutnya.

Karena situasi yang mencekam, sebagaimana digambarkan di atas, ditambah situasi ekonomi yang sulit, terutama karena surutnya sungai Nil, Mesir diancam bahaya kelaparan. Al-Kamil pun mengajukan permintaan perdamaian. Ia mengajukan tawaran menyerahkan Jerusalem dan hampir semua kota yang ditaklukan Shalahudin kepada pihak Salib asalkan mereka (pihak Salib) menarik diri dari Dimyat. Tawaran yang begitu menguntungkan pihak Salib itu ditolak, bahkan mereka akan menguasai seluruh Mesir dan Syam. Penolakan ini terutama dikemukakan oleh utusan Paus, Pelagius, yang ditopang oleh Italia, karena kepentingan perdagangannya terancam di Mesir. Tidak ada pilihan bagi Al-Kamil: hancur atau menang. Timbullah ide yang kemudian dilaksanakannya, yaitu menghancurkan dam-dam irigasi yang menuju Dimyat. Akhirnya banjir pun melanda seluruh Dimyat. Banyak tentara Salib yang tenggelam. Mereka terancam bahaya kelaparan. Karena bantuan Frederik II yang diharapkan tak kunjung datang, tentara Salib pun meninggalkan Dimyat tanpa syarat. 



Sumber: Gerakan Kembali ke Islam; Warisan Terakhir A. Latief Mukhtar, K.H. Abdul Latief Mukhtar, M.A.

Terimakasih kepada  Al Islam 1998
Jl. Pahlawan Revolusi, No 100, Jakarta 13430

==========================================================================================

Thursday, 24 September 2015

Tes KeBOHONGAN Al Qur'an


TES  KEPALSUAN  AL QUR'AN



     Berkenaan dengan para ilmuwan, mereka memiliki filosofi berbeda, mereka memiliki pendekatan berbeda. Pendekatan ini disebut sebagai UJI KEPALSUAN. Para ilmuwan sangatlah sibuk. Ada banyak teori yang bermunculan dan mereka tak punya waktu untuk menganalisanya.

Mereka berkata: "Jika kau punya teori, pertama-tama, berikan kami cara untuk membuktikan bahwa teorimu itu salah". Albert Einstein juga mengajukan beberapa hal, bagaimana jagad raya bekerja. Dia juga memberikan 3 cara untuk membuktikan bahwa teorinya salah. Lalu para ilmuwan menganalisanya selama 6 tahun dan pada akhirnya mereka setuju bahwa teori itu benar adanya.

Siapa saja yang memberikan uji kepalsuan, patut didengarkan. Bukan berarti orang itu hebat atau karyanya hebat, karyanya bisa benar bisa juga salah, tapi siapapun yang melakukan uji kepalsuan patut untuk didengar.

Ada banyak sekali uji kepalsuan yang disebutkan dalam kitab suci Al Qur'an. Kau ingin membuktikan Al Qur'an salah ? Mudah sekali dan kau bisa mencobanya. 
Teramat sangat mudah sekali.

Ada uji kepalsuan yang diperuntukkan pada masa lalu itu saja (saat Qur'an diturunkan), ada juga uji kepalsuan untuk masa sekarang, sebagian lagi diperuntukkan hingga hari kiamat tiba.

Salah satu yang bisa kau analisa adalah kisah tentang Abu Lahab. Abu Lahab adalah paman dari nabi Muhammad SAW.  Dan Abu Lahab diberi julukan "ayah dari api" dan dia adalah salah satu orang yang sangat memusuhi Muhammad. Kapanpun dan dimanapun dia melihat orang berbicara dengan Muhammad, ia akan menunggu. Dan setelah Muhammad pergi, dia berkata "Apa yang dikatakan Muhammad?. Apakah ia mengatakah hitam ? Yang benar putih !. Apakah ia mengatakan siang ? Yang benar adalah malam".  
Begitulah Abu Lahab selalu memutar balikkan perkataan Muhammad agar orang lain termakan ucapannya dan membenci Muhammad. Dia mengatakan kebalikkannya. 

Dia adalah salah satu musuh nabi Muhammad. Dan di dalam Al Qur'an surat Lahab, surat ke 111 dikatakan bahwa Abu Lahab dan isrinya akan dibakar di api neraka. Itu bererti mereka tidak akan masuk islam dan menjadi orang islam. Dan surat ini diturunkan 10 tahun sebelum Abu Lahab mati.

Ketika surat ini diwahyukan, satu-satunya cara yang harus dilakukan Abu Lahab untuk membuktikan bahwa Quran salah, adalah dengan masuk islam (berarti surat itu tidak terbukti kebenarannya). Banyak dari sahabat Abu Lahab dalam jangka waktu 10 tahun telah memeluk islam. Abu Lahab setelah 10 tahun, mati di perang badar. Dia punya waktu 10 tahun !. Muhamad terus-menerus mengingatkan dia selama 10 tahun. "Kau masuk islam, maka Al Qur'an terbukti salah".  
Sangat mudah. Satu-satunya cara yang dilakukan adalah mengatakan "saya seorang muslim". Selesai. 

Dia (Abu Lahab) tidak perlu berperilaku seperti muslim, tidak perlu shalat, tidak perlu zakat, tidak perlu puasa dll. Dia hanya perlu mengatakan "Saya seorang muslim". Selesai . . Qur'an terbukti salah. 
Sangat mudah sekali. Dia seringkali berbohong pada nabi Muhammad, dia hanya perlu berbohong sekali lagi dengan mengatakan "saya sorang muslim", maka Qur'an terbukti salah.

Tapi apa yang tejadi, dia tidak mampu. Kenapa bisa begitu ? Karena penulis Al Qur'an adalah ALLAH. 
Dan ALLAH maha tahu apa yang dilakukan Abu Lahab. ALLAH tahu Abu Lahab tidak akan menerima islam. 
Uji kepalsuan selama 10 tahun....!

 Ada juga uji kepalsuan yang lain, seperti dalam surat Al Baqoroh(2) :  94-95. Ada sekelompok yahudi dan muslim yang berselisih faham dan mereka berkata "surga hanya untuk kami". Jadi ALLAH berfirman dalam surat Al Baqoroh(2) :  94-95 : "Jika mereka berkata kampung akhirat (surga) itu khusus untuk mereka, maka mintalah mereka untuk meminta kematian." 

Dan ayatnya berlanjut "Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya." Satu-satunya cara yang harus dilakukan yahudi itu hanyalah mengatakan "aku ingin mati" untuk membuktikan Qur'an salah. Sangat mudah. Hanya mengatakan "Aku ingin mati". Bukan berarti mereka harus mati, bukan berarti mereka harus bunuh diri, mereka tinggal mengatakan "aku ingin mati". Hanya 3 kata dan Qur'an terbukti salah. 
Sangat mudah.

ALLAH melanjutkan dalam surat Al Baqoroh(2) : 95-96 "Mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya", meskipun 1000 tahun diberikan kepada mereka. Sangat mudah untuk membuktikan Qur'an itu salah.

.
Jadi 2 ujian kepalsuan ini, adalah ujian untuk masa lalu. Bagaimana uji kepalsuan untuk masa sekarang? 
Ya, setiap orang bisa melakukannya dan setiap orang punya kesempatan. 
Allah berfirman dalam surat Al Maidah(5) : 82  "Yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman adalah orang-orang kristen, dan yang paling keras permusuhannya dengan orang-orang beriman adalah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik." 

Di sini Qur'an berfirman maksudnya secara keseluruhan tentang orang kristen, yahudi dan musyrik terhadap orang-orang beriman. Ada banyak yahudi yang masuk islam, ada banyak yahudi yang lebih baik dibanding kristen, tapi secara keseluruhan, Qur'an berfirman bahwa bangsa yahudi sangat memusuhi islam, dan umat kristen lebih dekat dengan islam

Salah satu cara untuk membuktikan Qur'an itu salah adalah, seluruh bangsa yahudi bersatu dan berencana dengan berbaik hati kepada umat muslim selama beberapa tahun, maka Qur'an bisa terbukti salah. Sangatlah mudah. Tetapi mereka tak akan pernah melakukannya dan mereka tak akan sanggup melakukannya. Mengapa bisa begitu? Karena sang penulis Al Qur'an adalah ALLAH, dan hanya ALLAH yang maha tahu apa yang dilakukan yahudi terhadap muslim.

Ada juga uji kepalsuan yang lain, dan ALLAH memberikan kesempatan pada semua orang. 
ALLAH berfirman dalam surat Al Israa (17) : 88 "Jika manusia dan Jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran, mereka tidak akan sanggup membuat yang serupa dengannya."

Maksudnya, jika kau berkata Qur'an itu palsu maka buatlah yang serupa Al Quran bahkan jika kau bisa bekerja sama dengan bangsa jin sekalipun.

Tantangan yang sama diulangi lagi dalam surat Al Tuur(52) : 34 "Hendaklah mereka mendatangkan yang seperti Al Qur'an itu jika mereka orang yang benar." 
 Meskipun seluruh manusia dan jin berkumpul bersama, mereka tak akan sanggup menciptakan yang serupa Al Qur'an tanpa pertolongan ALLAH. 
Ini sebuah tantangan.

Dan ALLAH membuat tantangan ini lebih mudah. ALLAH berfirman dalam surat Hud(11) : 13 "mereka mengatakan :"Muhammad telah membuat-buat Al Qur'an itu, (kalau demikian), maka buatlah sepuluh surat yang menyamainya."  
Tidak seluruh Qur'an, itu pasti sulit. Cukup 10 saja. Panggilah orang-orang selain ALLAH, jika kalian memang benar. 
Allah membuat tantangan ini mudah, bahkan lebih mudah.

Dalam surat Yunus(10) : 38 "mereka berkata : Muhammad yang membuatnya. Katakanlah : maka cobalah buat sebuah surat sepertinya."
 Cukup 1 saja, bukan seluruh Qur'an. Hanya 1 saja.

Banyak orang telah mencobanya dan mereka semua gagal. Mereka membuatnya puitis namun jauh dari kenyataan. Hingga saat ini, tak satupun yang sanggup membuat 1 surat saja seperti Al Qur'an. Bahkan tantangan ini sudah berlangsung selama 1400 tahun lebih dan tak satupun yang sanggup membuatnya. Bukan hanya itu, tantangan inipun masih berlaku kepada siapapun yang masih meragukan keaslian Al Qur'an hingga hari kiamat tiba.

Mengapa bisa begitu? Karena sang pencipta Quran adalah ALLAH yang maha kuasa. Dan jika masih ada keraguan di hati kamu tentang keaslian Qur'an, maka ALLAH memberikan satu tantangan lagi, yaitu dengan menemukan 1 saja pertentangan dalam isi Quran. 
Cukup 1 pertentangan saja, maka Qur'an terbukti salah.

Maka dari itu, cobalah temukan pertentangan itu, bacalah Qur'an baik yang berbahasa arab maupun yang dilengkapi dengan terjemahannya, mulai dari awal hingga akhir. Cari satu saja pertentangan isinya. 
Mudah bukan? 
Ayo dicoba .......
Ayo buktikan ......


Iwan Priyadi 
24 September 2015 / Idul Adha 1436 H

Lihat juga : 
 - Kitab Perjanjian Terakhir :  https://www.youtube.com/watch?v=p06BCpr2YQY
 - Surat dari James (saudara Yesus) : https://www.youtube.com/watch?v=wUSRftbApZ0
 - Apakah Jilbab hanya untuk muslim? : https://www.youtube.com/watch?v=SalbBy7UIFE
 - Jilbab bunda Maria bertuliskan sahadat : https://www.youtube.com/watch?v=oBev7HU6v3Q 
 - Qur'an mukjizat terbesar? : https://www.youtube.com/watch?v=oS2hteZ3rqM 
 - Mengapa Ka'bah tidak dibangun di Israel : https://www.youtube.com/watch?v=fNNc3_gc6kA 
 


=========================================================================





Sunday, 19 July 2015

Surat dari James (saudara Yesus - Isa A.S.)

Surat dari James (saudara Yesus)

-Menjelaskan ajaran asli dari Yesus-


    Surat-surat dari saudara Yesus dianggap sangat berbahaya yang mana selama ratusan tahun para petinggi gereja menolak untuk memasukkannya kedalam al kitab. Surat surat itu bisa diterima akhirnya dikarenakan inti dari tradisi yang dianut menyangkut keluarga Yesus begitu kuat pada saat itu. 

   Ada sebagian pemimpin kristen pada saat itu mengatakan perihal tentang James. Karena jika anda membaca surat suratnya, surat tersebut tidak memiliki kesamaan dengan injil-injil yang ada pada umat kristen saat ini.

   Dalam perbedaan yang nyata dengan ajaran kristen saat ini, surat-surat dari James ini  menggambarkan Yesus hanya sebagai guru mereka tanpa memiliki unsur ketuhanan. Mereka memandang Yesus hanya sebagai manusia biasa yang dirahmati oleh Tuhan atau sebagai nabi.

   Perihal mengenai James ini adalah ajaran dari Yesus bukannya ajaran tentang Yesus. James melanjutkan apa saja yang dipelajarinya dari Yesus. Kita bisa mengatakan buku tersebut tidak memiliki ajaran teologi. Namun kenyataannya buku tersebut memiliki ajaran teologi akan tetapi ajarannya adalah teologi asli dari Yesus, tetapi tidak ada teologi mengenai Yesus dalam buku tersebut.


    Tidak pernah disebutkan perihal mengenai penyaliban Yesus, tidak menyebutkan perihal darah Yesus, tidak menyebutkan perihal pengampunan dosa dengan percaya kepada Tuhan messias yang ada di surga. Tidak ada hal semacam itu. Ini adalah sebuah buku yang menakjubkan untuk dibaca.

   Versi alternatif dari ajaran Yesus ini juga bisa ditemukan pada teks yang lain. Di kampung Yunani yang berada di kota Yerusalem kuno terdapat buku kuno lainnya yang juga tidak diikutsertakan ke dalam injil. Buku tersebut merupakan salah satu dokumen awal kristen yang menjadi perebutan. Kemungkinan besar jauh lebih tua dibandingkan dengan gospel itu sendiri.
Ini adalah sebuah kunci untuk memahami pesan awal dari ajaran asli Yesus.
 
   Perpustakaan Patriarch Yunani memiliki satu satunya salinan buku pedoman kuno  yang khusus ditulis untuk orang-orang yang baru memeluk agama kristen. Yang mana dihimpun pada saat keluarga Yesus masih hidup dan didedikasikan untuk mengetahui secara mendalam tentang apa sebenarnya yang diajarkan oleh penganut kristen pada masa awalnya. Ajaran ini berisi tentang kode-kode etika dalam kristen berdasarkan ajaran asli dari Yesus. Beberapa diantaranya adalah mengenai bagaimana tata cara  peribadatan yang benar.

   Akan tetapi yang membuatnya menjadi sangat berbahaya buat ajaran kristen saat ini adalah apa yang tak tertulis didalamnya yaitu tidak adanya disebutkan mengenai kelahiran Yesus dari perawan Maria. Tidak ada disebutkan mengenai kebangkitan Yesus. Dan diatas itu semua tidak ada disebutkan mengenai Yesus sebagai Tuhan.

   Mereka menyebuat Yesus sebagai tuan bukan sebagai Tuhan. Mengindikasikan bahwa mereka melihat Yesus lebih sebagai manusia biasa daripada sebagai Tuhan. Dan itulah yang menjadi permasalahannya. Selama 2000 tahun gereja bergumul dengan keseimbangan antara Yesus sebagai Tuhan dan sebagai manusia biasa. Akan tetapi sisi ke Tuhanannyalah yang lebih dominan.
Dalam prosesnya Yesus sebagai manusia adalah penting, dan sisi kemanusiaan dari ajarannyalah yang telah hilang.


   Ajaran ini juga berisi diskripsi secara mendetail mengenai ajaran paling awal menyangkut upacara komunal. Tidak seperti sekarang, tidak ada disebutkan mengenai roti dan anggur sebagai darah Yesus. Pada kenyataannya Yesus diposisikan bukan sebagai anak Tuhan melainkan hanya sebagai seorang hamba Tuhan atau sebagai seorang nabi.


   Ada tertulis dalam injil : "Dan mengenai roti yang telah hancur, kami bersukur pada Bapa kami atas kehidupan dan pengetahuan yang telah Engkau ajarkan kepada kami melalui Yesus hambaMu. Dan hanya kepadaMulah segala kebesaran akan berpulang selamanya."


   
  

 
 Apa yang sebenarnya menjadi hal paling mendasar bagi setiap orang kristen adalah mengenai ketuhana Yesus, tanpa itu maka tidak akan ada yang namanya agama kristen. tetapi yang menjadi jelas sekarang adalah orang-orang Yahudi sebagai pemeluk awal agama kristen termasuk didalamnya keluarga Yesus sendiri tidak memandang Yesus sebagai Tuhan.

   Dan yang terpenting itulah mengapa gereja-gereja berbuat terlalu jauh dan menghilangkan kisah-kisah tersebut dari agama kristen saat ini. Di dalam injil dalam surat dari saudara Yesus yang termuda yaitu Yudas, terdapat kisah yang sangat menarik mengenai penolakan terhadap sekelompok orang yang secara rahasia telah merusak ajaran Yesus yang asli.

    
 "Karena ada beberapa orang yang dengan diam-diam telah menyusup masuk ke tengah-tengah kamu, yaitu orang orang yang sejak dahulu kala telah ditentukan sebagai orang-orang yang menerima hukuman. Mereka adalah orang-orang fasik yang memutar balikkan anugerah Allah." (Yudas 1 : 4.)


    Jika anda terjemahkan akan menjadi peringatan yang sangat jelas bahwa pergerakan yang baru ini telah kehilangan tujuan awal dari ajaran Yesus. 


   "Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidupnya menuruti hawa nafsunya, mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan." 
(Yudas 1 : 16).


   Ketika Konstantin Agung menjadikan kristen sebagai agama resmi di kekaisaran Roma 1600 tahun yang lalu, interpretasi Paulus tentang ajaran Yesuslah yang diterima dan diadopsi. Dan Paulus sebagai pemegang kewenangan hanya bertemu Yesus melalui sebuah visi secara mistik saja. Walaupun pada kenyatannya dia tidak pernah bertemu langsung dengan Yesus dan hanya bergabung dengan pergerakannya setelah kematian Yesus.

Bertolak belakang dengan itu semua, James dan seluruh anggota keluarga lainnya yang tumbuh dan besar bersama Yesus mengikuti misi Yesus dan berada disaat saat kematian Yesus, versi ajaran kristen mereka yang mana mereka memandang Yesus hanya sebagai manusia biasa, malah dianggap sebagai ajaran yang berlawanan.


(Matius 21 : 11) : Dan orang banyak itu menyahut " Inilah nabi Yesus dari Nazareth di Galilea".





 Lihat videonya di : http://youtu.be/wUSRftbApZ0
============================================






Saturday, 6 June 2015

kalimat "Insha Allah" juga ada di Injil

Injil mengajarkan kalimat "Insha Allah"



Insha Allah berarti Jika Allah menghendaki

Sebelum kita menyelami makna sebenar yang terkandung dalam kalimat “insha Allah”yang bererti jika Allah menghendaki,ada baiknya kita melihat terlebih dahulu melihatsejarah penggunaan kalimat ini.

Jika kita amati ayat-ayat Al-Qur’an, ternyata kalimat insya Allah telah digunakan oleh nabi-nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad.

Apabila Nabi Ibrahim menyampaikan perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail, anak yang saleh ini berkata: “Wahai bapaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.  Insha Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.”
(Quran surat Al-Saffat ayat 102).


Begitu juga ucapan Nabi Musa apabila beliau berjanji kepada Nabi Khaidir untuk patuh kepada semua arahannya sepanjang perjalanan menuntut ilmu. Nabi Musa berkata: “Insha Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang bersabar, dan aku tidak akanmenentangmu dalam sesuatu urusanpun.”
(Quran surat Al-Kahfi ayat 69).


Kalimat ini kemudiannya diwariskan kepada Nabi Muhammad.Allah memerintahkan baginda untuk selalu mengucapkan insya Allah setiap kali berjanjiakan melakukan sesuatu.

Allah berfirman: “Dan jangan sekali-kali engkau (Muhammad) mengatakan:‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini esok’, kecuali (dengan menyebut): insha Allah...”
 (Quran surat Al-Kahfi ayat 23-24)


Ucapan insya Allah ini mencerminkan pengakuan atas kelemahan diri dan ketergantungankepada belas kasih Tuhannya agar selalu membantu dalam setiap keinginan dan niatannya.


Insya Allah lebih sesuai difahami sebagai kata-kata jaminan bahawa janji yang telahterucap akan akan terlaksana dengan baik. Sebab siapa yang berjanji dengan niatsungguh-sungguh untuk melaksanakannya, sambil menyerahkan perkara itu kepada Allah, bantuan dari Allah akan datang untuk mewujudkan janji tersebut.

Namun kalimat ini oleh sebagian orang termasuk umat muslim hanya dipakai oleh orang islam. Sesungguhnya kalimat ini juga diajarkan kepada umat lain seperti umat nasrani, bahkan tertulis dengan jelas di alkitab Injil. Perhatikan ayat berikut yg ada di injil.

Yakobus 4 ayat 15 : Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."

Kisah Para Rasul 18 ayat 21 : Ia minta diri dan berkata: "Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya." Lalu bertolaklah ia dari Efesus.


Nah jelaslah bahwa kalimat Insya Allah yang berarti jika Tuhan menghendaki, bukan milikumat isalm saja tetapi untuk semua umat beragama.


Semoga penjelasan ini bisa bermanfaat.

Allahuakbar.

----------------------------------------------------------------------------

Indian Amerika beragama Islam

Bangsa Indian Amerika beragama Islam


Menyebut Amerika pikiran kita langsung tertuju ke salah satu negara adidaya bernamaAmerika Serikat.
Padahal Amerika Serikat hanyalah salah satu negara yang di benua raksasa bernama Amerika. Bangsa Eropa menyebut benua ini sebagai benua baru, sedangkan pelaut Islam dari Afrika dan Asia mengenalnya sebagai tanah yang asing. Walau datang lebih telat 700 tahun dari pelaut dan pengembara Islam, bangsa Eropalah yang dikenang sebagai penemu benua ini.

Tidak banyak kisah maupun catatan yang menghubungkan benua Amerika dengan Islam kecuali pada akhir-akhir dekade ini. Sejarah yang lama akhirnya terungkap bahwa tanah asing ini merupakan koloni dagang  bangsa Afrika Barat dan Arab yang muslim. 


Bagai sebuah frame sejarah yang hilang, cerita kedatangan Islam di benua merah hilang tanpa bekas. Sejak bangsa kulit putih datang dan merampas kemerdekaan penduduk pribumi, sejak itu juga Islam kehilangan momentumnya. Apalagi mandat dari Raja Spanyol yang melarang Islam di benua Amerika telah mengubur agama ini. Praktis di Karibia dan Amerika selatan & tengah agama ini tinggal menjadi cerita lama.




Sisa Islam berupaya eksis di jantung Missisippi namun kekauatan bedil sang Inggris dan dilanjutkan adiknya Amerika menenggelamkan Muslim Indian. Namun bekasnya masih bisa dilihat di Arsip Nasional atau Perpustakaan Kongres. Kesepakatan 1987 atau Treat of 1987 mencantumkan bahwa orang Amerika asli menganut sistem Islam dalam bidang perdagangan, kelautan, dan pemerintahan. Arsip negara bagian Carolina menerapkan perundang-undangan seperti yang diterapkan bangsa Moor. Perjanjian seperti Perdamaian dan Persahabatan itu yang ditandatangani di Sungai Delaware di tahun 1787 menanggung tanda tangan dari Abdel-Khak dan Muhammad bin Abdullah, sebuah nama dan identitas muslim.


Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam. Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.
Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. 











Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati   pada tahun 1866








Selama ini suku Indian digambarkan dengan bulu burung elang dikepala, tapi dari catatan sejarah diketahui bahwa terdapat suku Indian yang memakai sorban khas dari Arab. 


 
 Salah satunya adalah Sequoyah pemimpin suku India Cherokee di Amerika. Sequoyah terkenal karena mampu membuat aksara bagi suku Cherokee yang mirip dengan aksara Arab. 


 Bahkan ada sekitar 500 nama tempat di Amerika yang mangadopsi nama dari Arab dan kebudayaan Islam. Di AS terdapat nama kota Islam seperti Medina dan Mecca.

 Satu lagi fakta dalam sebuah dokumen China, yakni Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi. Kata ini mengartikan: Amerika. Maka jangan heran bila banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata berakar dari bahasa Arab. 

Di wilayah Los Angeles, kita bisa menjumpai kawasan bernama Alhambra. Kata ini serupa dengan istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba. Di Amerika bagian tengah, dari wilayah selatan hingga Illionis juga terdapat nama-nama kota bernuansa Islami seperti: Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma.

 Menurut Dr. A. Zahoor, nama negara bagian Alabama berasal dari kata “Allah Bamya”. 


Sedangkan Tennesse dari kata “Tanasuh”. 


Selain itu ada pula yang frontal menjadikan nama  Arab sebagai nama kota, 
seperti Mecca di Indiana, 



Medina di Idaho, 


Medina di New York,

Medina dan Hazen di North Dakota, 
Medina di Ohio, 

serta Medina di Texas.

Di luar dari Amerika Serikat, tepatnya di wilayah Amerika Selatan terdapat nama Jamaika
dan Kuba. 
Kata Kuba, kemungkinan besar berakar dari kata Quba – masjid pertama yang dibangun Rasulullah Muhammad SAW.




Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.
Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke 7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.






Kedatangan pemukim Eropa dalam jumlah besar menggeser wilayah koloni bangsa Indian hingga orang Indian terdesak dan kehilangan tanah airnya. 


Sedangkan di Amerika Latin yang dijajah Spanyol dan Portugis, bangsa Indian kehilangan peradaban besar dan sejumlah emas mereka dijarah. Di Meksiko terdapat komunitas muslim dari suku Indian di Chiapas.

Sejak abad 15 sampai 16 Indian Muslim mengalami tekanan yang besar, gelombang kedatangan  kedua orang Islam ke dunia baru terjadi pada masa perbudakan. 
Budak-budak dari Afrika Barat di bawa ke Amerika, sebagian besar budak itu adalah muslim. 



Tertekan kehilangan hak azasi sebagian besar budak Afrika menyembunyikan identitas keislaman mereka. Hingga benar-benar hampir menghilang. 

 



Nama Estevenizo dari Azamor tercatat dalam sejarah sebagai muslim pertama dari Amerika Utara. Estevenizo merupakan budak orang Spanyol.










 Gelombang ketiga kedatangan Islam di Amerika terjadi pada abad 19, adalah para pekerja yang dibawa oleh bangsa kolonial seperti Inggris dan Belanda, mereka diperkerjakan di ladang-ladang perkebunan di benua Amerika Selatan bagian utara seperti Guyana dan Suriname. 


Orang-orang Inggris membawa kuli atau pekerja dari India dan Pakistan yang sebagian dari  mereka adalah Muslim, sedangkan orang Belanda mengangkut orang Jawa ke Suriname.
Para bekas pekerja ini yang kemudian melahirkan generasi Islam di Guyana dan Suriname.

Gelombang kedatangan Islam keempat yaitu para imigran dari timur tengah khususnya Lebanon, Palestina dan Suriah. Mereka adalah korban yang lari dari amukan perang agama, walau sebagian besar dari mereka beragama Kristen tapi terdapat sebagian kecilnya
adalah muslim. 

 


Salah satu keluarga muslim yang terkenal adalah keluarga Menem, yang salah satu generasinya menjadi presiden Argentina yaitu Carlos Menem.


Carlos Menem kemudian hari berpindah agama ke Katholik agar bisa menjadi calon presiden Argentina. Konstitusi Argentina memang mencantumkan syarat agama sebagai syarat menjadi presiden. Di Argentina sendiri bermukim kurang lebih 3 juta umat Islam, yang mana merupakan tempat tinggal muslim terbesar di Amerika Latin.




 


 Semoga tulisan ini bisa bermanfaat. InsyaAllah.


===========================================================

Apakah jilbab hanya untuk muslimah ? : https://www.youtube.com/watch?v=SalbBy7UIFE 

Injil Barnabas prediksi kedatangan Nabi Muhammad : https://www.youtube.com/watch?v=maYrfJyVwdI

Hijab bunda Maria bertuliskam Bismillah : https://www.youtube.com/watch?v=oBev7HU6v3Q


===========================================================