Showing posts with label raja. Show all posts
Showing posts with label raja. Show all posts

Thursday, 1 October 2015

Perang Salib

Sejarah Perang Salib


Apakah perang salib (491--692 H/1097--1292 M) itu? 

Ada yang menjawab bahwa gerakan itu tidak lepas dari rangkaian pertentangan antara Barat dan Timur, seperti antara Persia dan Romawi, kemudian lenyap dan meletus lagi dengan dahsyat dalam bentuk pertentangan agama antara Islam (Timur) dan Kristen (Barat).

Ada juga yang memberikan jawaban bahwa gerakan itu tidak lepas dari rangkaian perpindahan penduduk Eropa setelah kejatuhan imperiun Barat pada abad ke-5. Sebagian lagi menyodorkan jawaban bahwa gerakan itu merupakan kebangkitan kembali agama di Eropa Barat yang dimulai sejak abad ke-10 dan mencapai puncaknya pada abad ke-11. Pada abad-abad sebelumnya "jemaah haji" Kristen ke Bait al-Maqdis dari Eropa Barat bisa dihitung dengan jari. Namun, pada abad ke-11 datang ratusan jemaah yang dipimpin oleh uskup dan bangsawan dalam bentuk demonstrasi keagamaan secara damai menuju tempat-tempat suci di Syam.

Perang Salib yang dikumandangkan mulai tahun 1095 merupakan wujud 'gerakan haji' secara masal ke Bait al-Maqdis yang sebelumnya dilakukan secara damai, kini dilakukan melalui peperangan dan permusuhan. Alasannya, karena di Eropa Barat tersebut tersebar berita-mungkin dilebih-lebihkan, mungkin pula semacam hasutan dengan menggunakan sentimen agama-bahwa jemaah haji itu sering mendapat gangguan dari kaum muslimin, terutama setelah dinasti Salajiqah menguasai Bait al-Maqdis pada tahun 1071, kemudian menguasai Antioch tahun 1085 dan mengusir orang-orang Bizantium dari sana. Inilah yang meyakinkan orang Barat akan perlunya menggunakan kekerasan dalam rangka pengamanan jemaah haji dari Eropa Barat ke Syam.

Dr. Said Abd Fatah 'Asyur, dalam bukunya yang diterjemahkan oleh Syed Ahmad Semait, Perang Salib, menyimpulkan sebagai berikut. "Perang salib adalah gerakan besar-besaran pada abad pertengahan, yang bersumber dari Kristen Eropa Barat, berbentuk serangan penjajahan atas negara-negara kaum muslimin, khususnya di Timur Dekat dengan maksud menguasainya. Gerakan ini bersumber dari kondisi pikiran, sosial, ekonomi, dan agama yang menguasai Eropa Barat pada abad ke-11. Tindakan itu diambil setelah ada permintaan bantuan dari orang-orang Kristen Timur dalam melawan kaum muslimin dengan memakai tirai agama untuk menyatakan keinginan dirinya agar terbukti dalam bentuk tindakan secar meluas."

Kondisi masarakat Eropa Barat menjadi penyebab terjadinya perang salib itu. Motifnya pun sangat kompleks. Baik agama, sosial, politik, maupun ekonomi semuanya berjalin-kelindan. Faktor agama memang diaktifkan untuk membangkitkan semangat yang menyeluruh dan kesediaan berkorban. Namun, agama bukanlah satu-satunya faktor pembangkit perang salib.


Faktor-Faktor Pendorong Perang Salib

Sebab-sebab terjadinya Perang Salib secara umum di antaranya adalah sebagai berikut. 

(1) Adanya desakan dinasti Salajiqah terhadap posisi dan kedudukan kekuasaan Bizantyium di Syam dan Asia Kecil. Bahkan, Bizantium merasa lebih terancam setelah Salajiqah memenangkan pertempuran yang sangat menentukan di Muzikert pada tahun 1071. Karena itu, tidak heran kalau Emperor meminta bantuan dari Eropa Barat, termasuk dari Paus yang kekuasaannya cukup besar.

(2) Faktor agama. Faktor ini cukup dominan dalam mengobarkan Perang Salib meskipun persoalannya sebenarnya cukup kompleks. Agama Kristen berkembang pesat di Eropa Barat terutama setelah Paus mengadakan pembaruan. Sementara itu, Kristen mendapat saingan agama-agama lain, terutama Islam yang berjaya mengambil alih kekuasaan Bizantium di Timur yang juga menganut agama Kristen seperti Siria, Asia Kecil, dan Spanyol. Spanyol adalah benteng Eropa bagian barat dan Konstantinofel adalah benteng Eropa sebelah timur. Kedua pintu gerbang ini telah digempur kaum muslimin sejak dinasti Bani Umayyah, dilanjutkan oleh dinasti 'Abbasiah, kemudian dinasti Saljuq. Oleh karena itu, tidak heran kalau Eropa merasa gentar menghadapi perkembangan kekuasaaan Islam yang dianggapnya sebagai pesaing.

Sementara itu, pada abad ke-11 kedudukan Paus mulai diangap penting. Ia menjadi pemimpin semua aliran Kristen, baik di Barat maupun di Timur. Ia berambisi untuk menyatukan semua gereja. Pada waktu itu gereja terpecah menjadi dua: gereja Barat dan gereja Timur, itu terjadi setelah Konferensi Rum pada tahun 869 M dan Konferensi Konstantinofel pada tahun 879 M. Mereka berbeda paham tentang roh Kudus.

Paus berusaha menundukan gereja ortodok Timur, tetapi pertentangan antara gereja Barat dengan kekaisaran Bizantium menghambat niat Paus ini. Datanglah peluang emas bagi Paus untuk melaksanakan niatnya itu ketika ada permintaan bantuan dari Bizantium untuk menghadapi tekanan Salajiqah. Peluang emas ini dimanfaatkan juga agar Paus muncul sebagai pemimpin tunggal untuk semua rakyat masehi dalam berjuang melawan kaum muslimin, dan sekaligus bercita-cita menyatukan gereja Timur dan gereja Barat di bawah pimpinan Paus Butros. Semuanya dilakukan dengan memakai kedok agama untuk memerangi kaum muslimin, menyelamatkan Bizantium, dan mengembalikan tanah-tanah suci di Palestina.

Pada tahun 1009 gereja Al-Qiyamah dihancurkan oleh Al-Hakim sehingga "jemaah haji" Kristen mengalami gangguan ketika melewati Asia Kecil. Sentimen agama ini terlalu dibesar-besarkan di Eropa Barat. Seorang paderi, Patriarch Ermite, menjelang perang Salib berkeliling Eropa. Dengan berpakaian compang-camping, kaki telanjang dan mengendarai keledai, ia berpidato sambil menceritakan penghinaan pemerintah Saljuq terhadap kesucian Nabi Isa. Dengan cara ini, ia berhasil mengumpulkan ribuan orang untuk menyerbu Bait al-Maqdis demi kesucian agama mereka. Karena semata-mata didorong oleh sentimen agama, tanpa organisasi dan perencanaan yang matang, tentara mereka yang sebagian rakyat biasa akhirmnya kandas di perjalanan. Begitulah sebagaimana diutarakan Dr. Shalaby dengan mengutif karya Wells, A Short History of the Midle East.

(3) Faktor ekonomi. Faktor ini juga turut berperan dalam mendorong terjadiny Perang Salib. Ketika Eropa Barat-terutama Prancis-melancarkan propaganda perang Salib, negaranya sedang sedang menghadapi krisis ekonomi. Karena itu, sejumlah besar golongan faqir dan kaum kriminal menyambut seruan ini, bukan karena panggilan agama, tetapi karena panggilan perut. Buktinya, mereka merampok serta merampas makanan dan harta benda sesama orang Kristen dalam perjalanan menuju Konstantinopel ketika menyerbu Bait al-Maqdis. Hal ini sebenarnya bertentangan dengan ajaran agama mereka.

Selain itu, saat itu timbul "tiga besar" (Venice, Genoa, dan Pisa) yang ditopang oleh pemerintahan Italia, yang memberikan bantuan terutama berupa armada laut. Pemerintah Italia bermaksud hendak menguasai dan menduduki pelabuhan-pelabuhan timur dan selatan Mediterania, seperti pelabuhan-pelabuhan di Syam, supaya perdagangan Timur dan Barat dapat mereka kuasai.
Kepentingan ekonomi ini nampak ketika tentara Salib mengarahkan serangannya ke Mesir.

(4) Faktor sosial-politik juga memainkan peranan yang dominan dalam konflik Perang Salib ini. Hal itu dapat dilihat dari gejala berikut.

Pertama, masyarakat Eropa pada abad pertengahan terbagi atas tiga kelompok: (1) kelompok agamawan yang terdiri dari orang-orang gereja dan orang-orang biasa; (2) kelompok ahli perang yang terdiri dari para bangsawan dan penunggang kuda (knights); dan (3) kelompok petani dan hamba sahaya. Dua kelompok pertama merupakan kelompok minoritas yang secara keseluruhan merupakan institusi yang berkuasa dipandang dari segi sosial-politik yang aristokratis, sedangkan kelompok ketiga merupakan mayoritas yang dikuasai oleh kelompok pertama dan kedua, yang harus bekerja keras terutama untuk memenuhi kebtuhan kedua kelompok tersebut. Karena itu, kelompok ketiga ini secara spontan menyambut baik propaganda perang Salib. Bagi mereka, kalaupun harus mati, lebih baik mati suci daripada mati kelaparan dan hina, mati sebagai hamba. Kalau bernasib baik, selamat sampai ke Bait al-Maqdis, mereka mempunyai harapan baru: hidup yang lebih baik daripada di negeri sendiri.

Kedua, sistem masyarakat feodal, selain mengakibatkan timbulnya golongan tertindas, juga menimbulkan konflik sosial yang merujuk kepada kepentingan status sosial dan ekonomi, misalnya sebagai berikut. (1) Sebagian bangsawan Eropa bercita-cita, dalam kesempatan perang Salib ini, mendapat tanah baru di Timur. Hal ini menarik mereka karena tanah-tanah di Timur subur, udaranya tidak dingin, dan harapan mereka bahwa tanah itu aman di banding dengan di Eropa yang sering terlibat peperangan satu sama lain. Dalam proses perang Salib nanti akan nampak bahwa dorongan ini merupakan faktor terlemah tentara Salib karena timbul persaingan bahkan konflik.

(2) Undang-undang masyarakat feodal mengenai warisan menyebabkan sebagian generasi muda menjadi miskin karena hak waris hanya dimiliki anak sulung. Dengan mengembara ke Timur, melalui perang Salib, anak-anak muda ini berharap akan memiliki tanah dan memperoleh kekayaan.

(3) Permusuhan yang tak kunjung padam antara pembesar-pembesar feodal telah melahirkan pahlawan yang kerjanya hanya berperang. Kepahlawanan dalam berperang adalah kesukaan mereka. Ketika propaganda perang Salib dilancarkan, mereka bangkit hendak menunjukan kepahlawanannya. Kepahlawanan mereka selama ini disalurkan melalui olahraga sehingga mereka kurang memperoleh kepuasan.

(4) Besarnya kekuasaan Paus pada abad pertengahan, yang nampak dari ketidakberdayaan raja untuk menolak permintaan Paus. Kalau raja menolak, ia dikucilkan oleh gereja yang mengakibatkan turunnya wibawa raja di mata rakyat. Hal ini terbukti ketika raja Frederik II terpaksa turut berperang dengan membawa tentara yang sedikit, dan membelok ke Syam ketika ia seharusnya memberikan bantuan ke Mesir (Dimyat). Ia tidak bersemangat untuk berperang. Ia menghubungi Sultan al-Malik al-Kamil untuk menerangkan posisinya bahwa ia tidak membawa misi suci (dorongan gereja). Karena itu, ia memintanya untuk menjaga rahasianya (menipu Paus) agar tidak diketahui orang Jerman.

Nanti akan kita lihat bahwa Frederik II menempuh perdamaian dengan Al-Kamil, suatu perdamaian yang oleh Paus dianggap tidak memuaskan.

Demikianlah uraian tentang beberapa sebab dan motif terjadinya Perang Salib yang oleh K. Hitti disebutkan sebagai "Complexity on causation and motivation".

Para ahli sejarah meyakini bahwa sentimen agama pertama kali dikobarkan oleh Paus Urban II melalui khotbahnya tanggal 26-11-1095, di Council of Clermont. Council ini dihadiri oleh orang-orang gereja dan raja-raja Eropa. Seruan Paus yang terkenal dan cukup efektif antara lain: "Enter upon the road to the holy spulcrhe, wrest it from the wicked race and subject it". (Nurhakim Zaki)


----------------------------------

Perang Salib (II)


Ada beberapa penafsiran tentang berapa kali Perang Salib itu terjadi. Batas antara Perang Salib yang satu dengan yang lainnya secara pasti tidak dapat ditentukan. Menurut K. Hitti tiga kali, menurut Shalaby tujuh kali, sedangkan menurut Sa'ad Abd Fatah 'Asyur delapan kali. Karena itu, untuk memastikan kebenarannya, perlu penelitian lebihn lanjut. Saya akan menguraikan apa yang ditulis Syalaby.

Perang salib I
Ide Perang Salib I bersumber dari pidato Paus Urban II pada tahun 1095 di Clermont, daerah tenggara Prancis. Ia menganjurkan perang suci melawan kaum muslimin di Timur dengan satu teriakan: "Inilah kehendak Tuhan" (Deus vult). Hal ini sebagai hasil pendekatan berkali-kali kepada Paus Urban II oleh Emperor Alexius Comnenus yang posisinya sedang terdesak di Asia kecil oleh dinasti Saljuq. Pada tahun 1097 sebanyak 150.000 orang, sebagian besar dari Jerman dan Normandia, dikerahkan dalam tiga angkatan di bawah pimpinan Raja Godfrey, Raja Bohemond, dan Raja Raymond. Mereka bertemu di Konstantinofel.

Tetapi, tampaknya tidak semua raja di Eropa menopang gerakan salib ini. Dalam pertemuan bersejarah di Clermont itu, ada juga yang tidak hadir untuk menyatakan keikutsertaannya. Dari semula Paus Urban II merasa perlu dukungan dari kekuatan sekular. Para uskup bersidang dan mengeluarkan keputusan yang menyatakan bahwa setiap yang turut serta dalam perang suci akan mendapatkan pengampunan dosa dan kekayaan para bangsawan selama berperang dalam pengamanan gereja. Sidang itu juga menghasilkan kesepakatan, sebagai simbol gerakan, bahwa pakaian setiap orang yang turut berperang akan diberi tanda salib merah pada bagian pundak dan punggung dan gerakan diarahkan menuju Konstantinofel. Keputusan lainya, siapa saja yang pulang tanpa menunaikan tugasnya akan menerima hukuman dari gereja.
Angkatan Perang Salib I ini terdiri dari tiga kelompok. Kelompok pertama dipimpin oleh Raja Godfrey of Bouillon dari Lorraine dan saudaranya, Baldwin. Kelompok kedua dipimpin oleh Bohemond dari Normandia. Dan, angkaan ketiga dipimpin oleh Raymond IV dari Provinve, yang didampingi utusan pribadi Paus, Uskup Adheman. Di samping itu, Raymond memperingatkan Paus akan pentingnya bantuan dari Genoa, yaitu bantuan angkatan lautnya. Akhirnya, Gemoa memberikan bantuan dua belas kapal perang untuk menopang Perang Salib ini. Karena itu, Genoa mendapat hak atas pelabuhan-pelabuhan Syiria.
Ketiga kelompok tentara Salib tersebut, setelah sampai di Konstantinofel, harus tunduk kepada pimpinan dan komando Kaisar Alexius Comenus. Pada mulanya ada perlawanan terutama dari Godfrey dan Raymond. Namun, akhirnya mereka terpaksa tunduk kepada kekuasaan Bizantium. Di samping itu, Kaisar Bizantium dapat memaksakan suatu perjanjian: "Setelah menaklukan daerah-daerah di Asia Kecil dan dan di Syam, para raja harus mengembalikan daerah-daerah bekas kekuasaan Bizantium yang di rebut oleh Saljuq".
Dari fakta-fakta tersebut nampak bahwa pihak Bizantium Timur, Alexius, cukup berpengalaman dalam memaksakan keinginannya mempertahankan daerah-daearah jajahannya. Dari pihak raja-raja juga sebenarnya hendak mendirikan pemerintahan masing-masing. Perlawanan terhadap kekaisaran Bizantium dibalas dengan pemboikotan bahan makanan, sehingga mereka tidak berdaya menghadapi Kaisar Alexius itu, seperti terjadi terhadap Godfrey. Peselisihan Emperor dengan Raymond tidak setajam dengan Godfrey karena dapat diredakan oleh utusan Paus, Adhemar. Namun, perselisihan ini berlanjut ampai raja-raja mengingkari janjinya. Ini merupakan kelemahan pihak tentara Salib, sehingga Paus menjadi kecewa.

Pada permulaan 1097 tentara Salib mulai menyeberangi Selat Bosforus bagaikan air bah. Mereka berkemah di Asia Kecil yang ketika itu dikuasai oleh Dinasti Saljuq, Qolej Arslan. Mula-mula mereka mengepung pelabuhan Naicaea selama sebulan sampai jatuh ke tangan tentara Salib pada tanggal 18 Juni 1097. Ini berarti Bizantium telah merebut kembali apa yang telah dikuasai dari Antioch selama enam tahun. Tentara Bizantium di bawah pimpinan Emperor mengadakan perundingan dengan penguasa kaum muslimin seputar penyerahan kota itu kepadanya, dengan jaminan muslim Turki akan diselamatkan. Hal ini mengejutkan tentara Salib karena merasa kalah cepat oleh kelihaian Emperor.
Tentara Salib terus maju. Pertempuran di Darylaeum (Eski-Shar) meluas ke tenggara Nicaea sampai akhir 1097. Tentara Salib meraih kemenangan karena Saljuq dalam keadaan lemah. Mereka berhsil memasuki selatan Anatolia dan Provinsi Torres. Di bawah pimpinan Baldwin, mereka mengepung Ruha, yang penduduk Armenianya beragama Kristen. Rajanya, Turus, telah melantik Baldwin untuk menggantikannya setelah ia mati, sehingga Baldwin dapat menaklukan Ruha pada tahun 1098.

Bohemond menaklukan Antioch, ibu kota lama Bizantium, pada tanggal 3 Juni 1098 setelah susah payah mengepungnya selama sembilan bulan. Antioch termasuk benteng yang sangat kuat karena secara geografis sangat strategis--setelah konstantinofel-- dengan gunung-gunungnya yang mengelilingi sebelah utara dan timur, dan sungai yang membatasinya. Jatuhnya Antioch dari Yagi Sian (Saljuq) disebabkan oleh berpecah-belah dan lambatnya bantuan dari Salajiqoh Persia (Karbugha), serta terjadinya pengkhianatan di dalam Antioch sendiri oleh bangsa Armenia yang tentu memihak Kristen. Bantuan logistik dan perlengkapan dari Inggris dan armada laut Genoa yang tiba di pelabuhan Suwaida semakin memperkuat tentara Salib.

Bahemond telah menunjukan keberaniannya yang luar biasa. Ketika tentara Salib mengalami krisis dalam pengepungan Antioch ini, ia pura-pura bersedia pulang ke Italia. Dengan sendirinya tentara meminta-minta agar tidak ditinggalkan oleh pemimpinnya, terutama pada saat yang kritis, ketika mendapat serangan tentara gencar dari tentara Saljuq. Ia menuduh panglima Bizantium, Titikios, telah mengkhianati tentara Salib karena mengadakan hubungan rahasia dengan penguasa Saljuq-Turki untuk menghancurkan tentara Salib. Hal ini menyebabkan kemarahan tentara Salib meluap-luap. Akhirnya, Tatikios dengan tentaranya lari melalui pelabuhan Suwaida ke Pulau Cyprus karena takut dibunuh tentara Salib. Nampaknya kali ini Bahemond berhasil menempatkan dirinya sebagai satu-satunya panglima-- setelah mendapat pengalaman menghadapi kaki tangan Emperor di Nicaea--sehingga ada alasan untuk tidak menyerahkan Antioch kepada Emperor Bizantium. Di sini nampak persaingan kekuasaan antara Bizantium dan raja Eropa.
Setelah penaklukan Antioch, Bohemond dapat menguasai daerah-daerah sekitarnya. Raymond menguasai sebelah barat daya Antioch dan tidak mau menyerahkannya kepada Bohemond, karena sebenarnya ia pun berambisi menguasai seluruh Antioch. Krisis ini baru bisa diselesaikan setelah Raymond diserahi pimpinan untuk penyerangan ke Yerusalem, karena ia mempunyai peluang untuk menguasai daerah yang lebih luas di tanah suci itu. Akhirnya, Antioch berada di bawah kekuasaan Kristen selama kurang lebih seperempat abad.
Dalam perjalanan ke Baitul Maqdis, Raymond mengadakan hubungan kerja sama dengan amir-amir Arab, antara lain dengan Muwaranah yang memberikan bantuan kepada tentera Salib. Pemerintah Tripoli dan Beirut juga memberikan bantuan kepada tentara Salib, mungkin karena Solidaritas agamanya lebih diutamakan daripada tanah airnya, atau karena tidak tunduk kepada tentara Turki. Dalam tempo satu bulan, Yerusalem sudah dapat direbut pada tanggal 15 Juli 1099. Kekalahan kaum muslimin Dinasti Fatimiyah yang menguasai Bait al-Maqdis sudah dapat dipastikan, karena kota-kota penting yang merupakan pintu gerbang satu-persatu telah ditaklukan. Jumlah tentara Salib jauh lebih banyak daripada tentara Fatimiyah, yaitu 40.000 orang (20.000 orang merupakan tentara terlatih).

Penaklukan Bait al-Maqdis oleh tentara Salib diwarnai dengan pembantaian yang tak pandang bulu (indiscriminate massacre). Kaum muslimin--meliputi semua umur dan jenis yang tak berdaya--dibantainya. K. Hitti menuliskan, "Heaps of heads and hand feet were to be seen throughout the street and squares of the city." Para ahli sejarah mencatat jumlah korban pembantaian itu sekitar 60.000--100.000 orang lebih. Peristiwa yang kejam ini (jika dibandingkan dengan penaklukan Shalahuddin al-Ayyubi dalam merebut kembali Bait al-Maqdis) tentu menimbulkan pertanyaan, "Benarkah motivasi agama (Kristen) menjiwai perang ini?"

Akhirnya misi tentara Salib tercapai, yaitu merebut Bait al-Maqdis dan berhasil mendirikan pemerintahan, masing-masing Baldwin memegang tampuk kekuasaan di Ruha (1098), Bohemond menguasai pemerintahan di Antioch, dan Godfrey menjadi penguasa di Yerusalem, karena Raymond tidak terpilih menjadi penguasa di sana. Godfrey meninggal dunia dan digantikan saudaranya, Baldwin I, tanpa ada yang menyaingi karena Bohemond ditawan Raja Al-Ghazi Kamusytakin Turki.

Meskipun Yerusalem telah dikuasai, peperangan di Syam terus berlangsung. Raja Yerusalem menyerahkan kepemimpinan kepada Raymond (1101) untuk menaklukan Tripoli di Syam. Kaum muslimin di Tripoli dapat mempertahankan pengepungan Salib selama delapan tahun. Pada tahun 1109, Tripoli jatuh ke tangan tentara Salib, tetapi Raymond tidak sempai menyaksikan kejatuhan kota itu karena meninggal dunia (1105) ketika pengepungan mencapai puncaknya. Ia digantikan oleh Wiliam Yordan, yang meninggal dunia pada tahun 1108. Wiliam kemudian diganti oleh Bertrand. Pada zaman Bertrand, Tripoli dapat ditaklukan. Kota-kota penting lain yang ditaklukan ialah Akka (ditaklukan pada tahun 1104) dan Sur (ditaklukan pada tahun 1124). 

--------------------------

Perang Salib (III)

Selama Perang Salib sudah nampak kelemahan di pihak tentara Salib, yaitu perselisihan dan persaingan antara raja-raja dengan Emperor Alexius dan persaingan antara raja-raja sendiri, apalagi ketika musuh bersama mereka sudah tidak berdaya lagi. Kelemahan itu bertambah dengan kembalinya sebagian besar tentara Salib ke Eropa. 

Di pihak lain, kaum muslimin yang menyadari kelemahannya mulai mengonsolidasikan diri. Dari selatan, tentara Salib mulai didesak oleh tentara Mesir sehingga Ar-Ramlah dapat ditaklukan pada tahun 1102 melalui pertemperan yang hebat. Dari utara mereka mendapat serangan dari kerajaan-kerajaan Atabek yang didirikan di atas reruntuhan dinasti Salajiqoh, anatar lain Atabek al-Mausal yang dipimpin oleh Imadiddim Zangi pada tahun 1127. Prof K. Ali pernah menggambarkan pribadi Imaduddin Zangi, anak Sultan Malek Syah ini sebagai berikut, "Ia lebih mencintai sadel kuda daripada tempat tidur sutera, lebih senang menjadi pemimpin pertempuran daripada menikmati lagu dan musik yang indah, dan lebih memilih berbicara dengan senjata daripada bersenda gurau dengan wanita cantik." Ia mampu menahan perluasan kekuatan Salib, bahkan mampu menyerang wilayah-wilayah yang dikuasai Kristen satu per satu, sehingga Ruha (Edessa) dapat ditaklukan lagi pada tahun 1144. Edessa dianggap oleh orang Kristen sebagai kota suci. Karena itu, di sana didirikan keuskupan. Ketika Imaduddin dan tentaranya memasuki daerah itu, mereka tidak menghukum semua orang Kristen, kecuali yang ikut berperang dan membantu tentara Salib Jerman. Imaduddin dibunuh oleh tentaranya sendiri ketika beroperasi di Kalat-Jabir. Putranya, Nuruddin Zangi, kemudian menggantikannya dan menjadikan Aleppo sebagai pusat pemerintahannya. Pada masa Nurudin inilah terjadi Perang Salib II.

Paus Eugenius III memilih seorang dai, Padri Bernand, untuk berbicara atas nama Paus. Ia pandai membakar semangat orang-oarang Eropa untuk membantu orang-orang Salib di Timur. Padri ini berhasil mempengaruhi Louis VII, raja Prancis, dan Conrand III, raja Jerman, untuk memimpin serangan baru menyelamatkan wilayah Kristen di Syam itu. Baron-baron dari kedua negara itu turut serta mengikuti jejak raja-raja mereka.
Tentara Jerman lebih dahulu bergerak menyeberangi Sungai Danube menuju Konstantinopel. Di sana mereka disambut Emperor Manual yamng memiliki semangat tanpa perhitungan matang dan tidak sepandai Alexius. Sesampainya tentara Jerman ke Asia Kecil, dengan mudah tentara Islam menggempurnya sampai sebagian besar tentara Jerman ini terbunuh. Demikian pula nasib tentara Prancis yang sampai ke Konstantinopel, mereka mengalami nasib yang sama seperti tentara Jerman--selain banyak yang mati karena wabah penyakit. Sisa-sisa tentara mereka berangkat juga menuju Syiria hendak mengepung Damaskus. Akan tetapi, Nuruddin Zangi dapat menghalau mereka. Kedua anak raja ini pulang ke Eropa, Perang Salib II selesai.
Penyebab kegagalan tentara Salib adalah tidak adanya kerja sama yang baik antara meraka. Satu dengan yang lain tidak saling mempercayai karena masing-masing merasa khawatir kekuasaannya akan dicaplok, ditambah lagi wabah penyakit terutama yang menimpa tentara Prancis, di samping serangan yang tidak dilakukan secara serempak seaperti pada Perang Salib II.

Sejak Dinasti Zangi memegang kembali pimpinan, perimbangan kekuatan berubah lagi. Kemenangan Nuruddin mempertinggi semangat untuk menaklukan lagi wilayah-wilayah yang dikuasai Kristen. Pada tahun 1149, ia menaklukan Antioch, pada tahun 1151 menaklukan Ruha (Edessa), dan tahun 1164 menawan Bohemond III dan Raymond III yang memerintah Tripoli. Kemudian, Nuruddin mengambil alih Damaskus dari Muiddin Umar yang dianggapnya lemah dalam menghadapi gerakan Salib, bahkan secara rahasia ia berusaha mengkhianati Nuruddin. Yang penting pula Nuruddin mengirimkan seorang panglima yang gagah berani, Asaduddin Syirkuh, ke Mesir dalam rangka memperkuat sayap kiri menghadapi tentara Salib. Syirkuh diterima baik oleh rakyat Mesir dan Khalifah Fatimiyyah. Ia diangkat sebagai perdana menteri, dan praktis memegang kekuasaan pada tahun 1169. Namun, tidak lama kemudian ia wafat. Kedudukannya lalu digantikan oleh Shalahuddin al-Ayyubi yang melanjutkan jabatan perdana menteri pada masa Khalifah Al-Adhid. Di samping memperkuat sayap kiri barisan kaum muslimin, Shalahuddin juga memberi peluang timbulnya dinasti Al-Ayyubi. Peristiwa demi peristiwa terjadi pada masa kekuasaannya, sehingga Salahuddin akhirnya menutup riwayat Khilafah Fatimiyah Syi'iyah. Ia berhasil mengembalikan Mesir kepada Ahli Sunnah, dan tunduk kepada Khalifah Abbasiyyah di Baghdad. Selanjutnya ketika Nuruddin Zangi meninggal dan digantikan anaknya, Ismail, terbuka kesempatan bagi Shalahudin untuk mengambil alih kekuasaan. Ia berusaha keras mengadakan konsolidasi, menggabungkan daerah-daearah yang belum tunduk kepada kekuasaan Nuruddin. Penting juga untuk dicatat, dengan berkuasanya Salahuddin di Mesir, pusat kekuasaan Islam beralih ke Selatan, sehingga Mesir menjadi markas utama dalam melawan gerakan Salib. Hal ini disebabkan oleh terjadinya perpecahan di kalangan pelanjut Nuruddin di Syam.

Di antara strategi dan taktik Salahuddin ialah mendahulukan konsolidasi negara-negara Arab-Islam, termasuk Al-Nubah, Yaman, Hijaz, dan Syam. Selain sebagai panglima militer, ia juga seorang politikus di zamannya. Ia mempergunakkan taktik mengulur waktu melalui perjanjian damai dengan pihak Salib. Sementara itu, ia melakukan konsolidasi kekuatan militer untuk mencapai sasaran utama.

Setelah itu, baru Salahuddin melancarkan serangan-serangan ke kubu kekuatan Latin. Pertama-tama, untuk mengamankan Mesir dari serangan sebelah Barat, ia menaklukkan Afrika yang diduduki tentara Normandia. Karena sistem yang tidak begitu kuat, dalam waktu singkat ia bisa menduduki Tripoli (Libya) dan Tunis, bahkan kota Kobis pada tahun 568 H. Lalu, ia mengarahkan serangan demi serangan ke Palestina. Salahuddin mencoba menyerang Balabak dan Damaskus, kemudian Palestina (1117). Serangan-serangan ini gagal, bahkan Salahuddin sendiri hampir tertawan. Ia kembali ke Mesir untuk mempersiapkan diri lebih baik.
Ada dua peristiwa pertempuran penting yang menyebabkan nama Salahuddin semakin harum, dan dengan sendirinya membuka pertahanan untuk menerobos dan merebut kembali Bait al-Maqdis dari kekuasaan Salib. Pertama, penaklukan benteng Ya'kub yang kokoh di Banyas--benteng itu merupakan sarana penyokong bantuan. Sementara itu, Farukh Syah, keponakan Salahuddin, dapat menaklukkan Damaskus dari Baldwin IV. Sementara pengepungan benteng Ya'kub makin diperketat, Salahuddin juga mengirim tentera untuk menaklukkan Beirut dan Saida. Pihak Latin terpaksa meminta perdamaian. Dalam hal ini siasat Salahuddin adalah menerima sebagian dan menolak sebagian yang pernah mengkhianati perjanjian, tujuannya untuk memecah kekuatan mereka. Selain itu, ia juga membenahi kekuasaannya di Mausol dan Aleppo setelah wafatnya Al-Malik al-Salih, Sultan Ismail Ibn Nuruddin. Kedua, pertempuran Hittin (1187) setelah Salahuddin menaklukkan wilayah-wilayah lainnya, dan setelah Regional of Chatillon mengkhianati perjanjian perdamaian, bahkan tenteranya melakukan serangan-serangan yang membabi-buta terhadap jamaah haji kaum muslimin. Reginald menawan kafilah haji, termasuk saudara perempuan Salahuddin. Hittin adalah suatu lapangan yang dikelilingi bukit-bukit dan berdekatan dengan laut Tabariah. Tentara Latin berjumlah 20.000 orang dipimpin oleh raja Bait al-Maqdis, Guy of Lusignon, dan Reginald of Chatillon, penguasa benteng Karak. Namun, kaum Muslimin berjaya dapat memenangkan pertempuran yang menentukan ini. Kekalahan salib ini berdampak besar terhadap kekuatan tentara Islam. Sebaliknya, tentara Salib semakin lemah, karena yang ditawan bukan saja prajurit biasa, melainkan juga panglima-panglimanya, Guy dan Reginald. Oleh karena itu, penaklukkan kota-kota lainnya, seperti benteng Tabariah, Akka, Al-Naisiriah, Qisariah, Haifa, Saida, dan Beirut dilakukan dengan mudah, dan merupakan kulminasi atau puncak reputasi Salahuddin yang ditakuti oleh pihak Salib.

Selanjutnya Salahuddin mengarahkan tentaranya menuju Jerusalem. Pusat-pusat kekuatan yang akan memberikan bala bantuan dapat diamankan. Pada mulanya Salahuddin ingin memasuki kota suci itu secara damai karena mempertimbangkan kedudukan daerah ini yang bukan saja kota suci bagi Kristen, tetapi juga kota suci agama samawi lain, termasuk Islam. Akan tetapi, pihak penguasa Salib tidak mau begitu saja menyerahkannya, karena mereka merasa bentengnya kuat, dan orang-orangnya banyak karena merupakan pelarian terakhir. Salahuddin terpaksa harus menggempurnya. Ia mengambil posisi di Bukit Zaitun sebagai markas tentaranya, dan memerintahkan agar menempatkan majanik-majanik di atas bukit itu. Tentara Salahuddin menjadikan batu-batu bukit sebagai peluru. Tentara-tentara Salib berlindung di benteng-benteng besar. Pasukan penerobos berusaha memasuki benteng dengan keberanian yag luar biasa. Tidak ada jalan lain bagi tentara Salib, kecuali menyerah dan mengadakan perundingan mengenai pemberangkatan tentara Salib daru Jerusalem. Dalam tempo 40 hari, mereka harus keluar dari Jerusalem dengan membayar semacam kerugian perang: laki-laki membayar 10 dinar, perempuan 5 dinar, dan anak kecil 2 dinar setiap orangnya. Dari fakta ini tampak kebesaran jiwa Salahuddin, yang mampu menguasai diri dan anak buahnya untuk tidak mengadakan tindakan pembalasan di luar perikemanusiaan seperti yang pernah dilakukan tentara Salib ketika merebut Jerusalem tahun 1099.

Sekumpulan istri para bangsawan dengan anak-anaknya datang berbondong-bondong kepada Salahuddin agar suami atau bapak mereka dibebaskan sehingga mereka bisa pulang ke Eropa dengan tenang. Mendengar ratapan ini Salahuddin segera melepaskan suami atau orangtua mereka dengan rasa perikemanusiaan yang tinggi. Sikap Salahuddin ini menambah harum namanya, baik di mata lawan maupun kawan. Beberapa sejarawan Barat yang pernah menulis ketinggian pribadinya, antara lain Stanley Lane Poole.

Akhirnya Jerusalem kembali ke pangkuan kaum muslimin. Suara azan mulai berkumandang di Al-Masjid al-Aqsa, sementara lonceng gereja masih sepi, turut berduka-cita. Anak buah Salahuddin menurunkan salib Emas dari Al-Qubbah al-Sakhra, tetapi tidak memasang menara azan di Kanisah al-Qiyamah.  

--------------------------

Perang Salib (IV)

Tujuan utama Perang Salib adalah merebut dan mempertahankan Jerusalem. Kini kota suci ini telah kembali ke pangkuan kaum muslimin. Selanjutnya, meskipun ada persamaan antara Perang Salib I dengan Perang Salib III, ada juga perbedaan-perbedaannya, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, pada Perang Salib I, Paus yang menjadi penggerak utama sekaligus dijadikan lambang dalam perang itu, sedangkan pada perang Salib III, penggerak utamanya adalah kaum politisi, yaitu raja-raja Eropa Barat. Kedua, pada Perang Salib I, faktor agama menjadi pendorong yang penting, sedangkan pada Perang Salib III, faktor agama bukan menjadi penyebab. Pada Perang Salib III banyak orang Eropa yang turut berperang agar terbebas dari kewajiban membayar pajak. Pada Perang Salib II, Louis VII bahkan membebankan pajak 10% kepada pemilik kendaraan yang tidak turut berperang. Demikian pula Philip Augustus dan Richard the Lion's Heart, ia membebankan pajak--yang disebut "Dana Cukai Shalahuddin"--kepada ahli agama dan masarakat umum. Paus pun giat mengumpulkan "Dana Perang Salib" sambil mengeluarkan fatwa bahwa orang yang tidak mampu berperang harus memberikan dana, dan akan diampuni segala dosanya sebagaimana orang yang turut berperang. Kepada setiap penderma diberikan "Sertifikat Pengampunan". Akhirnya, gereja menjadi sumber dana yang penting. Ketiga, pada Perang Salib I, jumlah tentara salib cukup besar. Mereka begitu serempak dan bersatu menghadapi tentara muslim Saljuq yang lemah dan berpecah belah, sedangkan keadaan pada Perang Salib III sebaliknya.

Orang-orang yang memimpin Perang Salib III adalah raja-raja Eropa terkenal:
 (1) Raja Jerman Frederik Barbarosa, 
 (2) Raja Inggris Richard the Lion's Heart 
(3) Raja Prancis Philip Agustus. Yang paling menonjol dan enerjik adalah Frederik II yang memilih jalan darat menuju medan perang, menyeberangi sungai dekat Armenia, Ruha. Tetapi nasibnya malang, ia tenggelam ketika menyeberang. Karena tidak ada pelanjut kepemimpinan yang bisa diandalkan, sebagian besar tentaranya kembali ke Jerman.

Tentara Inggris dan Prancis yang bergerak menuju jalan laut bertemu di Saqliah. Richard menuju Cyprus kemudian ke Palestina, sedangkan Philip langsung ke Palestina, dan mengepung Akka dengan bantuan sisa-sisa tentara Frederik. Dalam pengepungan ini turut pula orang-orang Latindi Syam di bawah pimpinan Guys yang pernah mengadakan perjanjian damai dengan Shalahuddin. Berkat dukungan tentara Richard dan angkatan lautnya, Akka dapat direbut. Tentara Salib melakukan pembunuhan besar-besaran meskipun setelah itu tidak ada lagi serangan militer. Perang salib ini diakhiri dengan perjanjian Ramalah (1192) yang isinya menyisakan sedikit tanah untuk orang Kristen di pantai yang berdekatan dengan Akka--memanjang dari Sur sampai Haifa--membolehkan jemaah haji Kristen berziarah ke Yerusalem tanpa membawa senjata, dan Shalahuddin menguasai wilayah yang ditaklukannya termasuk Ludd, Ar-Ramlah, dan Asqolan.

Tidak lama kemudian, Maret 1193, Shalahuddin meninggal dunia setelah mengalami sakit di Damaskus dengan meninggalkan wilayah kekuasaan yang cukup luas. Qodi Ibnu Syaddad menggambarkan keadaan duka cita kaum muslimin, "Islam dan kaum Muslimin tidak mendapatkan musibah yang setara dengan wafatnya Shalahuddin semenjak mereka kehilangan Khulafa ar-Rasyidin?."

Antara Perang Salib III dengan Perang Salib IV ada kondisi yang khas, yakni (1) gereja berusaha mengembalikan kepemimpinan, tetapi Henry VI, seorang politikus yang ulung, dapat mengganjal usaha ini; (2) perselisihan baru terjadi antara kalangan militer Latin di Syam; (3) di pihak Islam pun terdapat kelemahan, karena Shalahuddin, sebelum wafatnya, telah membagi-bagikan wilayah kekuasaan kepada para pelanjutnya. Damaskus dan bagian selatan Syria diserahkan kepada Al-Malik al-Afdal (1193-6), Mesir kepada Al-Malik al-Sahir (1993--1215); sedangkan saudara Shalahuddin, Al-Malik al-'Adil, memperoleh Karak, Jordan, Jazirah, dan Diyar Bakr--nampaknya wilayah terakhir ini kurang penting sehingga kurang menyenangkan Al-'Adil. Keluarga Al-Ayubi lainnya juga mendapat warisan daerah kekuasaan sampai Jazirah Arabia dan Yaman. Akhirnya, terjadi perselisihan antara putra-putranya dan Al-'Adil, diakhiri dengan kemenangan Al-'Adil terhadap keponakan-keponakannya itu (1199--1218). Demikianlah peta pembagian kekuasaan sampai datang serangan Mongol (1260).


Perang Salib IV (1202--1204)

Pada masa Paus Innocent III, gereja tetap mengobarkan kembali perang Salib. Dalam hal semangat dan kepemimpinan, perang ini bercorak Prancis seperti Perang Salib I. Target perang ini diarahkan ke Mesir, dengan pertimbangan: (1) kekuatan Islam sudah beralih ke Mesir, karena itu Mesir harus dikuasai dulu; (2) penaklukan Mesir akan membawa keuntungan perdagangan untuk para pedagang Italia--jika langsung menguasai Jerusalem, orang Mesir akan melakukan tindakan pembalasan terhadap para pedagang di Delta Nil, Dimyat, dan Alexanderia.

Ketika tentara Salib di Venice (1202) bersiap hendak menuju Mesir, tiba-tiba semua pasukan diperintahkan untuk menyerang Konstantinopel pada bulan Juli 1203, dan merebutnya pada bulan April 1204. Setelah itu, Baldwin VII diangkat sebagai Emperor Latin I di Konstantinopel. Kekuatan ini berkuasa selama 60 tahun.


Perang Salib V (1218--1221)

Perang Salib ini merupakan lanjutan Perang Salib I dan IV, dengan sasaran utamanya Mesir. Saat itu Mesir berada di bawah Pemerintahan Al-Malik al-'Adil, yang meninggal dunia (1218) setelah tentara Salib menguasai menara Al-Silsilah. Al-Malik kemudian digantikan oleh putranya Al-Malik al-Kamil (1218--1238).

Al-Malik al-kamil menghadapi gangguan dari dalam, yaitu konspirasi yang dipimpin oleh seorang panglima yang berasal dari Kurdi, Ibn Masytub, yang hendak menyisihkannya. Ia lalu melarikan diri ke Yaman. Namun Karena bantuan adiknya, Al-Malik Mu'azzam dari syam, ia bisa kembali menduduki tahta kesultanan Mesir. Tantangan dari luar--selain dari tentara Salib--adalah tentara Mongol yang mulai menguasai dunia Islam bagian Timur, Khawarizami, negeri-negeri Transoxiana, dan sebagian negeri Persia pada tahun 1220. Serangan Mongol ke Baghdad pun dimulai.

Kedudukan tentara Salib sebenarnya baik karena banyaknya rombongan besar menggabungkan diri atas seruan Paus Innocent III yang dilanjutkan oleh Paus Honorius III. Raja Juhanna de Brienne dan Wakil Paus, Plagius, memimpin pasukan ini. Dimyat bisa segera mereka kuasai pada tahun 1218. Namun, serangan belum dilanjutkan menuju Kairo karena menunggu bantuan Frederik II dalam perajalanan untuk menopang serangan selanjutnya.

Karena situasi yang mencekam, sebagaimana digambarkan di atas, ditambah situasi ekonomi yang sulit, terutama karena surutnya sungai Nil, Mesir diancam bahaya kelaparan. Al-Kamil pun mengajukan permintaan perdamaian. Ia mengajukan tawaran menyerahkan Jerusalem dan hampir semua kota yang ditaklukan Shalahudin kepada pihak Salib asalkan mereka (pihak Salib) menarik diri dari Dimyat. Tawaran yang begitu menguntungkan pihak Salib itu ditolak, bahkan mereka akan menguasai seluruh Mesir dan Syam. Penolakan ini terutama dikemukakan oleh utusan Paus, Pelagius, yang ditopang oleh Italia, karena kepentingan perdagangannya terancam di Mesir. Tidak ada pilihan bagi Al-Kamil: hancur atau menang. Timbullah ide yang kemudian dilaksanakannya, yaitu menghancurkan dam-dam irigasi yang menuju Dimyat. Akhirnya banjir pun melanda seluruh Dimyat. Banyak tentara Salib yang tenggelam. Mereka terancam bahaya kelaparan. Karena bantuan Frederik II yang diharapkan tak kunjung datang, tentara Salib pun meninggalkan Dimyat tanpa syarat. 



Sumber: Gerakan Kembali ke Islam; Warisan Terakhir A. Latief Mukhtar, K.H. Abdul Latief Mukhtar, M.A.

Terimakasih kepada  Al Islam 1998
Jl. Pahlawan Revolusi, No 100, Jakarta 13430

==========================================================================================

Friday, 7 February 2014

Rasulullah mengajak pemimpin dunia ke dalam Islam


Surat - surat Rasulullah (saw) kepada para Raja dan pembesar dunia.

Setelah perjanjian damai disepakati dan keadaanpun menjadi tenang, maka dakwah islamiah semakin mengalami kemajuan dan kepesatan. Rasulullah saw. mengirim beberapa surat kepada para Raja-raja dan pembesar-pembesar bangsa Arab.  Dalam suratnya itu beliau mengajak mereka memeluk Islam dengan cara yang baik. Dalam memilih setiap utusan yang akan dikirim dipilihlah orang yang pantas dan yang mengenal bahasa serta keadaan negeri yang akan dikunjunginya.
Dalam suatu riwayat dikayakan biasanya raja-raja itu tidak akan menerima yang tidak diberi cap / stempel. Untuk itu Nabi menyuruh untuk dibuatkan sebuah cap / stempel dari perak yang bertuliskan Muhammad Rasulullah. 

Surat kepada Kaisar Hereclius (Romawi): 
Surat Nabi yang dikirim kepada kaisar Romawi diberikan lewat Dihya Al Kalbi. Surat tersebut diserahkan kepada penguasa BAsra untuk disampaikan kepada kaisar Hereclius.
Isinya sbb : "Dengan nama Allah yang MAha Pengasih lagi Maha Penyayang. DAri Muhammad seorang hamba Allah dan utusan-Nya kepada Hereclius kaisar Romawi. Salam sejahtera bagi orang yang ikut jalan petunjuk. Amma Ba'du. Aku ajak anda dengan ajaran Islam. MAsuklah Islam agar anda selamat. ALlah akan memberikan pahala bagimu dua kali lipat. NAmun jika anda menolak anda akan mendapat dosa dua kali lipat. Hai orang-orang yang dituruni Kitab!. Marilah kpeada satu perkataan yang sama (tengah) antara kami dan kamu. Yaitu bahwa kita tidak akan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan yang satu tidak mengambil yang lain menjadi Tuhan selain dari Allah. Tetapi kalau anda tidak mau menurut katakanlah:"Akuilah olehmu bahwa kami ini adalah orang-orang Muslimin.""


Kaisar Hereclius memerintahkan untuk menutup semua pintu dan mengumpulkan para pembesarnya. Kemudian ia berkata : "Hai bangsa Romawi! Apakah kalian ingin mendapatka jalan kemenangan, jalan petunjuk, serta kerajaanmu ini tetap jaya dengan mengikuti Muhammad itu?" Para pembesar itupun segera berlari meningggalkan majelis itu, namun semua pintu telah ditutup. Katika kaisar Hereclius melihat ketidak-sanggupan kaumnya untuk beriman, ia memanggil para pembesarnya dan berkata:" Sesungguhnya apa yang kukatakan pada kalian itu hanyalah untuk menguji iman kamu saja terhadap agama kalian (Kristen) dan kini telah kulihat." Kemudian para pembesar itupun bersujud kepada kaisar. Walau demikian kaisar Hereclius tetap memilih kekuasaan daripada jalan petunjuk, Kelak di masa pemerintahan khafilah Abubakar dan Umar antara kaum Muslimin dan kaisar Hereclius sering terjadi peperangan yang berakhir dengan keruntuhan singgasananya dan kekuasaannya. Allahuakabar....!

Surat Nabi kepada kaisar Persia Ebreweiz (Raja Khosrau II) : 
 "Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad kepada kaisar Persia. Salam Sejahtera bagi orang yang mau mengikuti petunjuk serta beriman kepada Allah dan Rasulnya dan bersksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah kepada sekalian umat manusia, untuk memberikan peringatan bagi setiap orang yang hidup. Terimalah Islam agar anda selamat dan jika anda menolak, maka bagi anda dosa seluruh kaum Majusi."


Sikap kaisar Ebreweiz ketika menerima surat dari Muhammad (saw) ia menyambutnya dengan buruk bahkan surat itu dirobeknya sambil berkata: "Pantaskah orang itu menulis surat kepadaku sedangkan ia adalah budakku?". Kaisar memerintahkan gubernurnya yang berkuasa di Yaman yang bernama Badhan agar megirimkan utusan Nabi itu menghadapnya. Ketika berita itu terdengar oleh Nabi beliau berkata: " Alah memberikan kekuasaan pada putra kaisar Persia yang bernama Syairaweh untuk mengalahkan dan membunuh ayahnya."

Apa yang dikatakan Nabi itu ternyata menjadi kenyataan. Di tahun 628 M, putra kaisar Persia yang bernama Qabas dengan gelar Syarawaih berhasil merebut kekusaan dari ayahnya setelah ia membunuh ayahnya. Kerajaan itu akhirnya mengalami kehancuran setelah jadi permainan di tangan raja-raja Persia. Kaisar Syarawaih hanya mampu berkuasa selama 4 bulan saja. Setelah itu kekuasaan diperintah oleh 10 raja yang bergantian selama 4 tahun. Selama itu kerajaan mengalami kekacauan dan huru-hara yang akhirnya rakyat berhasil mengangkat kaisar Yazdajir sebagai raja Persia terakhir dari keluarga Sasanid. Kaisar yang akhir inilah yang menghadapi serbuan tentar Islam di Persia secara total setelah berkuasa selama 4 abad lebih. Keruntuhan kerajaan Persia itu persis apa yang dikabarkan oleh Nabi delapan tahun sebelumnya "Jika kaisar Persia hancur tidak akan ada  kaisar lagi sesudahnya.".

Akhirnya kaum Muslimin berhasil menguasai Persia dan penduduknya menerima Islam. Dan Persia banyak memproduksi kaum ulama serta pemimpin-pemimpin agama yang besar. Hal ini persis apa yang disabdakan oleh Nabi : "Andaikata ilmu pengetahuan itu berada di bintang Suraya pasti aka dicapai oleh orang-orang dari Persia.".

Surat Nabi Muhammad kepada kaisar Ethiopia Najasyi : 
"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasullullah kepada Najasyi kaisar Habasyah Ethiopia. Salam sejahtera bagi orang yang mau ikut petunjuk. Selain itu aku menguxapkan puji bagi Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, Raja, Maha Suci, Pembawa Keselamatan, Pemelihara Keamanan, lagi penjaga segala sesuatu. Dan aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah Rakhullah dan Firman-Nya yang diberikan kepada Maryam seorang wanita suci, baik lagi terjaga sehingga ia mengandung Isa bin Maryam dari Ruhullah dan tiup-Nya seperti Adam yang dijadikan dengan tangan-Nya. Dan aku ajak anda kepada Allah yang Tunggal dan tidak bersekutu bagi-Nya serta mantaati-Nya dan aku ajak anda untuk mengikuti aku dan mempercayai apa yang datang padaku. Sesunggunya aku ini adalah utusan Allah dan aku ajak anda serta segenap tentaramu ke jalan Allah dan aku telah sampaikan serta nasihatkan kepada anda. Karena itu terimalah nasihatku. Salam sejahtera bagi orang-orang yang mau ikut petinjuk."


 
Ketika Rasulullah s.a.w menulis surat kepada Raja Najasyi yakni Ashhamah bin Al-Abjar dan menyerunya kepada Islam. Raja An-Najasyi mengambil surat itu,  lalu meletakkan ke wajahnya dan turun dari singgasana. Beliau pun masuk Islam melalui Ja’far bin Abi Thalib r.a. Beliau lalu mengirimkan surat kepada Rasulullah Sallallahu A’laihi Wasallam dan menyebutkan tentang keislamannya.
  
Ibnu Hisyam meriwayatkan pada waktu itu iman telah masuk ke dalam hati Najasyi dan ia juga percaya bahwa Isa bin Maryam adalah seorang hamba Allah dan utusan-Nya serta kalimat-Nya yang ditempatkan kepada Maryam.. Seperti yang diriwayatkan oleh Al Hafiz Ubnu Katsir ialah Najasyi yang telah masuk Islam di masa Ja'far bin Abi Thalib. Kata Ibnu Kasir: " Hal itu terjadi bersamaan ketika Nabi berkirim surat kepada raja-raja untuk mengajaknya masuk Islam sebelum penaklukan kota Mekkah." Ketika Najasyi wafat, Nabi memberitahukan kewafatannya kepada kaum Muslimin dan beliaupun menyolatkannya. Ubay dari riwayat Alwakidi dan sebagian ahli sejarah juga mengatakan :"Najasyi yang menerima surat Nabi itu adalah  Najasyi yang disembahyangkan oleh Nabi di bulan Rajab tahun ke-9 Hijriyah sepulangnya dari perang Tabuk.".
Allahuakbar...!

Isi surat Nabi kepada Maqauqis (Mesir) : 
"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad seorang hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Muqaiqis penguasa Mesir (bangsa Qibti). Salam sejahtera bagi orang yang ikut jalan petunjuk. Selain itu aku ajak anda dengan panggilan Islam. Terimalah Islam agar anda selamat. Masukilah Islam agar Allah memberikan pada anda pahala dua kali lipat, Jika anda menolak maka anda menanggung dosa bangsa Qibti. Hai orang-orang yang dituruni Kitab! marilah kepada suatu perkataan yang sama (tengah) antara kami da kamu. Yaitu bahwa kita tidak akan menyembah selain Allah. Dan kita tidak akan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan yang satu tidak akan menjadi yang lain sebagai Tuhan selain daripada Allah. Tetapi kalau anda tidak mau menurut, katakanlah: "Akuilah olehmu bahwa kami ini adalah orang-orang Muslimin."



Kepada Uskup Dhughathir : 



Selain mengirimkan surat kepada Heraklius, Nabi juga menulis surat yang ditujukan kepada uskup terpandang di Romawi, yaitu uskup Dhughatir. Surat yang diantarkan juga oleh Dihyah tersebut berisi :

“Salam bagi yang beriman. Atas dasar itu sesungguhnya Isa bin Maryam adalah tiupan roh Allah, terjadi dengan kalimat-Nya yang benar (haq), disampaikan kepada Maryam yang suci. Aku beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya serta apa yang diberikan kepada para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami hanya tunduk patuh kepadanya. Salam yang mengikuti petunjuk.”

Setelah membaca surat tersebut, sang uskup berkata kepada Dihyah, “Demi Allah, kawannya adalah seorang Nabi yang diutus. Kami mengenali sifat-sifat dan namanya semuanya tercantum dalam kitab-kitab kami.”

Uskup tersebut kemudian menanggalkan keuskupannya yang berwarna hitam dan digantinya dengan jubah berwarna putih. Dia mengambil tongkatnya, lalu beranjak menuju ke gereja. Di sana, banyak orang sedang berkumpul. Di hadapan mereka, uskup berkata, “Wahai segenap orang Romawi, aku telah menerima surat dari Ahmad yang mengajak kita kepada Allah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Mendengar ucapannya tersebut, orang-orang pun serempak menyerang dan memukulinya bertubi-tubi hingga tewas. Setelah kejadian itu, Dihyah kembali kepada Heraklius. Kemudian Heraklius berujar, “Aku sudah memberitahukan kepadamu bahwa kami mencemaskan diri sendiri dan tindakan kekerasan mereka. Demi Allah, uskup Dhughatir lebih mulia daripada aku.”

Surat kepada Gubernur Al-Mundzir bin Sawa – Bahrain : 


Nabi Muhammad Sallallahu A’laihi Wasallam mengutus risalah kepada al-Munzir bin Sawa pemerintah Bahrain, menyeru beliau kepada Islam. Rasulullah Sallallahu A’laihi Wasallam memilih al-’Ala’ bin al-Hadhrami untuk menyampaikan risalahnya itu, sebagai jawaban al-Munzir telah menulis kepada Rasulullah seperti berikut ;

“Ada pun setelah itu wahai Rasulullah, sebenarnya telah pun ku baca bingkisan tuan hamba itu kepada penduduk Bahrain, di antara mereka gemarkan Islam dan kagum dengannya dan sebahagian yang lain membencinya, di bumi ku ini terdapat penganut Majusi dan Yahudi, maka berlaku sesuatu hal di sini mengenai seruan tuan hamba itu.”

Rasulullah s.a.w membalas semula kepadanya:  “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang ” Dari Muhammad Utusan Allah kepada al-Munzir bin Sawi salam ke atas kamu. Maka sesungguhnya kepada Engkau Allah, aku memuji yang tiada Tuhan selainNya dan aku mengaku bahawa Muhammad adalah hambaNya dan pesuruhNya, adapun selepas itu aku mengingatkan kau dengan Allah Azzawajala, maka sesungguhnya sesiapa yang menasihat sebenarnya beliau menasihati dirinya, dan sesiapa yang mentaatiku dan sesiapa yang menasihatkan mereka bererti telah menasihatiku. Sebenarnya para utusanku telahpun memuji kau dengan baik, sesungguhnya melalui kamu aku memberi syafaat ku kepada kaum kamu, oleh itu biarlah kaum muslimin dengan kebebasan mereka dan pengampunan kamu terhadap pesalah-pesalah, maka terimalah mereka. Sekiranya kamu terus soleh dan baik maka kami tidak akan memecatkan kamu dari tugas dan sesiapa yang masih dengan pegangan Yahudi atau Majusinya ianya wajib membayar jizyah.


Berikut surat-surat yang ditulis oleh Rasulullah Sallallahu A’laihi Wasallam adalah :
  1. Surat Kepada Negus, Raja Habsyah
  2. Surat Kepada Abu Sufian
  3. Surat Kedua Kepada Raja Habsyah
  4. Surat Ketiga Kepada Raja Habsyah
  5. Surat Kepada Kaisar Heraklius
  6. Surat Kepada Khusro Perwez, Maharaja Farsi
  7. Surat Kepada Hurmuz
  8. Surat Kepada Wazir Mesir
  9. Surat Kepada Hauza Bin Ali, Gabenor Yamamah
  10. Surat Kepada Haris Ghassani, Raja Damishq (Damsyik)
  11. Surat Kepada Munzir Bin Sawa, Gabenor Bahrain
  12. Surat Kedua Kepada Munzir
  13. Surat Kepada Jaifer Dan ‘Abd, Raja Oman
  14. Surat Kepada Jaifer Waris As’hama Negus
  15. Surat Kepada Raja-Raja Himyar
  16. Surat Kedua Kepada Raja-Raja Himyar
  17. Surat Kepada Farwah, Gabenor Ma’an
  18. Surat Kepada ‘Amr Bin Hazm Ansari, Gabenor Yaman
  19. Surat Kepada Ukaidir, Pemerintah Dumatul Jandal
Surat-surat dan perintah yang diantar kepada Amir, Pemimpin dan ketua-ketua berbagai Kabilah dan individu :
  1. Surat Kepada Pope Rom
  2. Surat-Surat Kepada Yahudi Khaibar
  3. Surat Kepada Budail Bin Waraqa
  4. Surat-Surat Kepada Puak Aslam
  5. Surat Kepada Penduduk Persekitaran Tihama
  6. Surat Kepada Khalid Bin Zimadul Azdi
  7. Surat Kepada Hilal Bin Umayyah, Amir Bahrain
  8. Surat Kepada Usaibukht Bin Abdullah, Amir Hajar
  9. Surat Kepada Bani Abdullah
  10. Surat Kepada Nahshall Bin Malik, Amir Bani Va’il
  11. Surat Kepada Rifa’ah Bin Zaid Juzami
  12. Surat Kepada Bani Asad
  13. Surat Kepada Amir-Amir Aqabah
  14. Surat Kepada Penduduk Maqna
  15. Surat Kepada Penduduk Azruh
  16. Surat Kepada Amir Hamdan
  17. Surat Kepada Khalid Bin Al-Walid
  18. Surat Kepada Musailamah Al-Kazzab (Si Penipu)
  19. Surat Kepada Muaz Bin Jabal R.A.
  20. Surat Kepada Jin
  21. Surat Kepada Zul Ghussa Qais
  22. Surat Kepada ‘Amr Bin Ma’abad Al-Juhani
  23. Surat Kepada Bani Zuhair
  24. Surat Kepada Suhail Bin Amr
  25. Surat Kepada Puak Khas’am
  26. Surat Kepada Zamal Bin ‘Amr Aluzri

......Semoga bermanfaat...........Allahuakbar.